dodo hawe

Komposisi dalam Fotografi

In Uncategorized on March 22, 2009 at 2:33 pm

atre

ANTRE - Antrean panjang ketika terjadi kelangkaan BBM di Depo Plumpang pada tahun 2002. Foto: dodo hawe

| FOTOGRAFI | Komposisi dalam fotografi pada dasarnya adalah penyusunan elemen yang ada disekitar obyek foto yang kemudian kita rangkai ke dalam sebuah bingkai (frame). Penyusunan elemen itu dimaksutkan untuk menghasilkan sebuah gambar yang memiliki keseimbangan antara warna, garis-garis, gelap terang dsb. Dari keinginan itu, sehingga terjadi sebuah pencitraan gambar yang menarik untuk kita lihat.
Penguasaan komposisi dalam memotret sangatlah penting. Karena keberhasilan seorang fotografer sebenarnya terletak pada daya kreativitasnya dalam membuat kompoisi, di samping penguasaan tehnik fotografi.
Dalam memotret tentu kita banyak memiliki pilihan angle (sudut pengambilan) apakah itu dari samping, depan, atas, bawah atau dari mana saja, sesuai keinginan pemotret. Pemilihan angle masing-masing pemotret pasti tidak sama.
Bagi seorang pemula seringkali dihadapkan pada berbagai masalah saat menentukan posisi yang tepat dalam memotret. Namun, yang terjadi bingung, tidak yakin dan kurang pede, kerap menyelimuti perasaan saat melakukan pemotretan.

Hal ini karena fotografer tidak memiliki bekal yang cukup tentang komposisi dan sudut pengambilan yang tepat saat memotret. Bahkan si fotografer tidak memiliki target, hasil foto yang diinginkan nanti seperti apa, sehingga ide menjadi kosong.
Itu sebabnya, ketika hendak memotret seorang fotogarafer sudah harus memiliki konsep terlebih dahulu. Paling tidak memiliki gambaran tentang foto yang akan di hasilkan nanti seperti apa. Dengan berbekal ide atau konsep tadi, seorang fotografer akan dengan mudah menempatkan posisi yang dianggap paling ideal dalam pemotretan, guna mencapai target (hasil foto) tadi.
Sebenarnya dalam prakteknya, memotret tidak ada suatu keharusan untuk menentukan posisi yang tepat, apakah harus dari depan, dari samping dari atas dst. Semuanya diserahkan kepada fotografer itu sendiri. Karena hal ini tergantung dari keinginan atau kebutuhan gambar yang akan dihasilkan nanti.
Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa dijadikan pedoman untuk membantu dalam menghasilkan sebuah komposisi yang baik. Ada beberapa pendekatan untuk medapatkan komposisi, di antaranya adalah :

Obyek dominan/kontras
Dalam membuat komposisi sebaiknya harus ada satu obyek yang menjadi point of interest (pusat perhatian). Menjadi obyek yang mendominasi. Tanpa obyek yang dominan sebuah komposisi terasa hambar, tanpa nyawa. Ibarat sebuah cerita, harus ada satu tokoh yang menjadi lakon, dimana semua pemain menuju ke arah tokoh utama itu.

Balance/keseimbangan
Ada berbagai macam balance (keseimbangan) : simetris, radial, formal dan informal. Semua bisa teraplikasikan untuk mendapatkan keseimbangan visual, sehingga sebuah kompisisi tidak berat sebelah dan terasa enak dipandang mata.

Unity
Merupakan sebuah satu kesatuan. Itulah yang diharapkan penyusunan, meski banyak obyek yang berbeda-beda warna atau bentuk, sebuah komposisi harus menyatu. Makanya dalam sebuah komposisi harus ada the unifying element; sebuah elemen yang bisa menyatukan obyek yang bercerai-berai tadi: bisa warna, garis, maupun tekstur.

Aligment/ garis semu
Salah satu prinsip yang tidak bisa diremehkan. prinsip ini tanpa disadari memberikan dinamisme, memberikan keteraturan. Garis semu diibaratkan besi sembrani yang menarik obyek-obyek disekitarnya dan mengikuti alur sang besi tadi. Hasilnya sebuah komposisi yang seolah-olah mengikuti pola, meski pola itu tak terlihat.

Repetisi/ konsistensi

Repetisi memberi irama. Ibarat musik, repetisi adalah ketukan. Dalam komposisi repetisi bisa menghasilkan kesan tapi dinamis. Obyek-obyek tersusun hampir sama, tapi setiap obyek berbeda. Senada tapi melonjak-lonjak. Itulah repetisi atau bisa juga dikatakan irama, atau boleh disebut konsistensi.

White Space
Seni ‘ketiadaan’ adalah elemen penting dalam komposisi. Jika diterapkan dengan benar, white spece bisa memberi kesan elegan, nafas, istirahat. Dalam sebuah komposisi harus ada bidang tempat kita bersantai di antara carut marut obyek.

Balance
Assymmetrical balance
Pada Keseimbangan Asimetris, obyek-obyek foto tidak ditempatkan seperti sebuah obyek di depan cermin, melainkan bebas tetapi berat antara obyek-obyek di kiri seimbang dengan masa obyek-obyek yang ada di sebelah kanan.
Tentu saja, untuk mendapatkan obyek-obyek yang sesuai dengan contoh-contoh di atas tidaklah mudah. Namun paling tidak ada kepastian, ada pemikiran, ada imajinasi dan ada patokan pada saat kita memidikan kamera kita ke obyek yang kita tuju.
Dalam pemikiran yang bebas, sebenarnya tidak ada yang mengikikat seorang fotografer dalam menghasilkan sebuah gambar. Kita bisa melakukan ekplorasi sendiri dari diri kita, dalam mencari sudut pengambilan yang tepat untuk mendapatkan sebuah komposisi visual. Baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.
Pada tingkatan tertentu sebenarnya fotografi adalah ibarat sebuah lukisan. Yang dalam penilaiannya sangatlah relatif dan berbeda-beda antara penikmat yang satu dengan menikmat yang lainnya.
Menurut fotojurnalis senior Harian Kompas, Arbain Rambey, hasil dari sebuah fotografi adalah ibarat baju. Pilihan seseorang dalam memiliki baju, pasti tidak akan sama. Karena memang selera seseorang juga tidak sama, sehingga wajar kalau dalam pilihan-pilihan keseharian juga berbeda.
Seorang fotografer sebenarnya memiliki kesamaan dengan seorang pelukis ataupun desainer. Seorang pelukis dan desainer untuk menghasilkan karyanya, dengan cara menciptakan komposisi, sedang seorang fotografer membuat komposisi melalui jendela kamera dari obyek-obyek yang ada di sekitarnya.
Seorang fotografer, untuk mendapatkan sebuah komposisi adalah dengan cara melakukan ekplorasi dari obyek yang ada di sekitarnya. Lain halnya dengan seorang desainer atau seniman, yaitu membuat konsep sebelumnya, baru menciptakan komposisi, yang dituangkan dalam visual nyata.
Kalau seorang fotografer imajinasi tidak bisa langsung diterapkan terhadap karya-karyanya. Namun banyak hal yang harus dilakukan, selain menerapkan tehnik-tehnik fotografi, juga diperlukan subyek atau momen yang ada di depan mata. Lain halnya dengan seorang desainer atau seniman. Imajinasi bisa langsung diaplikasikan ke dalam karya-karyanya dalam bentuk visual nyata baik berupa desain maupun dalam lukisan.
Namun, secara umum sebenarnya kedua pekerjaan itu dituntut memiliki tingkat kreativitas yang sama. Semakin kreatif dalam melakukan pekerjaannya semakin menarik hasil yang dicapai.
Kreativitas bervisual menjadi dasar terpenting bagi seorang fotografer dalam mengembangkan ide-ide kreatif terhadap hasil karyanya. Begitu juga bagi seorang seniman maupun desainer atau pekerja seni visual lainnya. dodo hawe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: