dodo hawe

Visual dan Pesan dalam Fotojurnalistik

In fotojurnalistik on March 17, 2009 at 4:25 pm

fish

red snapper

| PEMAHAMAN | Selain menguasai peralatan, seorang fotojurnalis juga dituntut mampu menghasilkan karya foto secara baik, dengan sudut pengambilan yang berbeda, baru dan menarik. Tentu saja, untuk mencapai pada tahapan itu membutuhkan proses pembelajaran dan pemahaman secara mendalam tentang konsep visual fotojurnalistik.
Mengutip bahasa Oscar Mutuloh dari Brian Lanker, seperti yang dikutip Frank P Hoy dalam bukunya Photojurnalism, Visual Aprroach mengungkapkan ada tiga jenjang yang baik sebagai basis seorang untuk memilih berkecimpung dalam fotojurnalistik.

PERTAMA adalah Snapshots (pemotretan sekejab, cepat, seketika, spontan. Adalah suatu gaya pemotretan yang dilakukan secara cepat dan spontan karena menyaksikan momen atau aspek menarik dalam keseharian. Dilakukan dengan spontanitas dan diikuti refleks yang kuat. Jenjang pertama ini, masih menyangkut pendekatan yang sifatnya lebih personal.

KEDUA adalah hobi (Advanced Amateur Photography). Dalam tahapan ini, fotografer mulai menekankan faktor-faktor eksperimentasi dalam pemotretannya. Fotografer tak lagi hanya melakukan snapshot saja, tetapi melakukan daya kreativitasnya untuk melakukan pendekatan lain yang lebih luas. Dalam tahapan ini seorang fotografer biasanya mulai tertarik pada kamar gelap. Kalau saat ini kamar gelap dianggap tidak relefan lagi, mungkin akan digantikan dengan penguasaan terhadap proses editing gambar di photoshops.

KETIGA adalah Art Photography, suatu jenjang yang lebih serius, spesific dan mendetail. Berbagai obyek pemotretan dititik dengan interpretasi yang lebih luas. Ekspresi obyektif biasanya terlihat di dalam karya pada tahapan ini. Kejelian, improvisasi, kreasi dan kepekaan terhadap suatu obyek menjadi basis pada jenjang ini.

Dengan penguasaan gaya dan pendekatan ke tiga jenjang itulah sebenarnya photojournalism berada dalam tahap selanjutnya. Artinya dalam mengemban profesi tersebut, maka seorang fotojurnalis dianjurkan menguasi dengan fasih ketiga jenjang atau tahapan tersebut di atas.

Selain itu, kreativitas dalam bervisualisasi sangatlah penting bagi seorang fotojurnalis. Dengan kemampuan imajinasi dan kreativitas yang tinggi, biasanya akan mempercepat pencapaian untuk menghasilkan sebuah gambar yang bagus dan menarik serta bermakna.

Foto tidak hanya sekedar bagus, jelas, indah, tapi juga harus menarik dan ada sesusatu kekuatan di dalamnya. Untuk itu, ”Fotojurnalistik perlu adanya sebuah pendekatan visual dengan suara hati,” kata Oscar Mothuloh dari Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Indonesia.

Fotojurnalistik, juga tidak hanya menyajikan peristiwa melalui bahasa visual seadanya saja. Dalam penyampaian informasi, diperlukan dengan menyajikan bahasa visual yang segar, menarik dan mampu menyampaikan pesan. Untuk mendapatkan visual menarik dan sempurna, dibutuhkan kerja keras dan daya kreativitas yang memadai.

Sutradara layar lebar yang juga fotografer gaek dari Newsweek DW Griffith Wally MacNamee berpendapat, sebagai seorang fotografer besar, dia tak pernah jemu melihat dan melihat apa saja.
Dalam rapat kerja senat di Washington seorang fotografer dari New York Times Geoger Tames langsung mengawasi seluruh pojok ruangan, saat dia memasuki ruang rapat. Perlahan, sambil menyandang kamera 35 mm nya, dia mulai berjalan mengitari ruangan mengincar posisi pemotretan terbaik.

Menurut MacNamee, naluri dan penciuman yang jeli diperlukan bagi seorang fotojurnalis, yang bersiap melakukan penugasan. Sebagai vigur visual, seorang fotojurnalis juga harus memahami subyek fotonya. Bahwa subyek foto perlu diobservasi untuk kemudian diekplorasi dalam suatu detail prima menjadi karya foto yang khas dan bertutur.

Berbagai sudut pengambilan (angle) yang diabadikan secara beragam dengan sudut pandang yang berbeda. Kerahkan seluruh imajinasi, ketrampilan dan daya kreativitas untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah dibuat oleh orang lain. Diperlukan kepedulian visual yang dalam, pemikiran yang stabil, menyakinkan dan terlatih.

Tentu setelah melampaui pengalaman yang sarat, sehingga intuisi itu akan datang begitu nalurinya mengisaratkan sesuatu peristiwa yang layak menjadi sebuah foto berita (fotojurnalistik).

Menurut Penuturan MacNamee biasanya pendekatan suatu penugasan dengan menggabungkan pengalaman dan antusiasme seperti yang diungkapkannya. ”Setiap penugasan pasti berbeda, kendati sangat tipis dengan penugasan sebelumnya. Lalu karena tajamnya persaingan, kita harus mampu menangkap detail-detail yang belum pernah tersentuh dan sering menjadikannya berbeda antara satu penugasan dengan penugasan lainnya,”

Menurutnya, seorang fotografer yang mampu terus menerus menangkap detail yang lebih tajam dapat menghasilkan foto-foto istimewa yang menenggelamkan karyafoto lainnya. (dodo hawe, berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: