dodo hawe

Antara Hidup dan Mati

In fotojurnalistik, pengalaman pribadi, Uncategorized on March 17, 2009 at 7:06 am

Badari Siklon

Badai Siklon

| PENGALAMAN HIDUP | Pagi itu Rabu 3 Januari 2007 pukul 06.00 WITA cuaca di Bandara Hasanuddin, Makassar terlihat cerah. Tidak ada tanda-tanda turun hujan ataupun badai seperti yang terjadi pada hari sebelumnya. Sejumlah kru pesawat Cassa dan Nomad Skuadron Udara 800 Wing Udara Koarmatim TNI AL telah siap untuk melakukan pencarian pesawat Adam Air yang jatuh di perairan Pulau Sulawesi. Kebetulan pesawat Nomad yang diperintahkan untuk segera terbang melakukan tugas pencarian di perairan Selat Makasar. Pesawat dibawah kendali Kapten Laut (P) Gering Sapto dan Letda I Made N berangkat melakukan tugas SAR pukul 07.30 WIT dan akan melakukan penerbangan selama 2 – 3 jam.Ketika terbang di ketinggian antara 1.000-2.000 kaki tidak ada tanda-tanda terjadinya hujan ataupun tiupan angin, karena cuaca pagi itu cukup cerah. Pada jam-jam pertama melakukan tugas SAR tidak ada hambatan apapun, semuanya berjalan lancar. Pencarian dilakukan dengan menyusuri kawasan Selat Makassar dengan radius pencarian sekitar 400 mil. Kali ini penyusuran diutamakan di wilayah laut dan penyusuranpun dilakukan tanpa ada hambatan yang berarti.

Tidak terasa penerbangan pagi itu telah memakan waktu selama 2 jam, dengan melakukan penyusuran terbang rendah di kepulauan laut dan pantai di kawasan Majene, Makassar. Ketika jarum jam menunjukan pukul 09.30 WIT awan mulai menyelimuti udara di perairan Selat Makassar yang disusul awan gelap dan turun hujan di atas ketinggian.

Melihat gelagat cuaca yang kurang baik ini Kapten Gering mencoba untuk mendekat ke Bandara Hassanudin. Celakanya ketika pesawat hendak mendekat ke bandara, pesawat yang ditumpang sekitar 9 wartawan media cetak dan elektronik yaitu Surya, Antara, Surabaya Post, Reuters, RCTI, Global TV, Metro TV, SCTV dan JTV dan empat kru awak pesawat itu tidak bisa melihat runway Bandara Hasanuddin.

Namun justru badai yang menghadang laju pesawat Nomad yang hendak mendarat ini. Pesawatpun terhempas dan terombang-ambing badai yang disertai hujan, yang membuat detak jantung menjadi keras. Pesawat Nomad memang sengaja dirancang sebagai pesawat terbang pengintai, yang hanya memiliki kemampuan terbang rendah. Sehingga ketika terjadi hujan lebat dan angin, pesawat ini tetap terbang di antara guyuran air hujan, ketinggian tertentu.

Saat terjadi badai dan hujan lebat di atas Bandara Hasanuddin, Makassar, dengan cekatan Kapten Geringpun kembali memutar arah pesawat. Dari kejauhan terlihat pegunungan dan daratan, yang ternyata pesawat sedang terbang dan melintas di atas langit wilayah pegunungan di Kabupaten Maros.

Cuaca di wilayah itu juga masih kurang bersahabat. Tak lama kemudian pesawat kembali dihadang turun hujan lebat yang disertai badai. Pesawat kembali terguncang dan terombang-ambing lagi. Kali ini badai lebih besar dari serangan badai sebelumnya. Rupanya pesawat yang saya tumpangi ini benar-benar menghadapi masalah.

Mesin pesawat terdengar meraung-raung di antara guyuran hujan dan badai.
Batin saya berkecamuk, jantung berdebar-debar dan berdetak lebih kencang, serta pikiranku berlari kemana-mana. Ingat orang tua
anak dan istri yang ada di rumah. Dalam hati saya berdoa, “Ya Alloh, ampunilah dosa-dosa ku ini. Andaikan pesawat menghadapi masalah, atau mendarat darurat. Berilah saya keselamatan,” Kata itu sempat terucap dalam hati saya.

Sejumlah wartawan yang tadinya terlihat masih bercanda sambil mengarahkan kamera ke pusaran badai kini menghentikan aktivitasnya dan terlihat menunduk. Di antara mereka terlihat terlentang dengan menutup matanya. Sepertinya mereka sengaja memejamkan mata dan pasrah kemungkinan jelek yang bakal terjadi.

Wartawan dari Antara dan Surabaya Post misalnya sebelumnya sengaja menelan dua butir pil antimo (obat antimabuk) agar mereka bisa terlelap tidur. Ada juga wartawan yang terus menerus berzikir di sepanjang penerbangan itu. Bahkan seorang wartawan dari media eletronik tangannya terlihat bergetar, karena katakutan.

Radar pesawat yang ada didekat kockpit menunjukkan warna merah yang kemudian langsung dimatikan oleh Kapten Gering. Kapten Gering sendiri terlihat tegang dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali menyalakan rokok untuk menghilangkan stress.

Suasana di ruang kabin berisi 11 penumpang terlihat tegang. Yang terdengar hanyalah raungan mesin pesawat dan gemuruh angin yang tak pernah berhenti sepanjang berjalanan hampir satu jam. Detak jantung berdebar-debar cepat dan tak tak pernah berhenti.

Adrenalin ku terasa dipompa, keras. Ketakutan dan kepasrahan kepada Alloh menjadi senjata untuk mengusir rasa takut. Di luar pesawat hanya terlihat gulungan awan putih dan hitam yang terus menyelimuti pesawat buatan Amerika ini.

Pesawat tetap melaju digegelapan awan dan hujan, untuk menghindari pusaran badai yang terus menggulung pesawat. Pesawat terpontang-paing ke kanan, kekiri dan terhempas ke bawah. Ketiga terhempas kebawah, rasanya seperti pesawat mau jatuh.

Rasa takut akhirnya mulai sirna setelah Kapten Gering berhasil melewati serangan badai tadi. Meski demikian para wartawan masih terlihat tegang mereka masih was-was, karena dari kejauhan masih terlihat kepulan awan hitam yang mengepung penerbangan pesawat Nomad.

Melihat gumpalan asap yang mengepung, rupanya Kapten Gering terus berupaya menjauh dan menghindar, meski sesekali masih terasa hempasan angin yang menerpa pesawat Nomad. Jarum menunjukan pukul 11.15 WIT gumpalan asap hitam pun mulai menghilang. Pesawatpun mencoba kembali ke arah landasan Bandara Hasanuddin Makassar. Mejelang memasuki wilayah bandara badai kembali menghempas pesawat, hingga terasa sekali pesawat seperti terlempar jauh.

Denyut jatungpun kembali berdetak keras. Namun dengan keberanian dan kepiawaiannya Kapten Gering akhirnya bisa menemukan runway Bandara Hasanuddin. Dengan perasaan yang masih belum menentu para wartawan terlihat masih tegang. Pesawat mencoba mendarat menuju landasan pacu bandara dengan tiupan angin yang cukup kencang.

Ditengah hujan lebat akhirnya pesawat Nomad berhasil mendarat di
dengan selamat di Bandara Hasanuddin Makassar tepat pukul 11.30 WIT. Sejumlah petugas bandara terlihat bergerombol memandangi pesawat kecil yang mendapat pada saat bandara sedang ditutup, akibat hujan lebat yang disertai angin. Sejumlah wartawan memberi ucacapan selamat kepada Kapten Gering dan krewnya.

Hidup dan Mati

Pilot Nomad Kapten Laut (P) Gering Sapta mengaku baru pertama kali menghadapi badai seperti itu. “Ini pengalaman hidup atau mati selama menjadi penerbang mas.” ujar Gering beberapa saat setelah terbang.

Menurutnya badai itu cukup besar dengan kecepatan 30 knot, pada hal badai yang menghantam pesawat Adam Air itu 70 knot. Posisi pesawat Nomad saat itu berada di pinggiran badai. “Ini baru di pinggirannya, kalau ketika kena di tengah pusaran habislah kita,” ujar pria berkaca mata minus ini.

Dikatakan saat itu pesawat dua kali memutar di atas Bandara Hasanuddin namun tidak menemukan runway, akibat tertutup awan gelap. Baru setelah uapaya yang ketiga berhasil menemukan lampu yang menyala di runway.

Keberanian mendarat meski bandara telah tertutup sejak pukul 10.00 WITA itu terpaksa dilakukan karena sisa bahan bakar yang ada di dalam pesawat tinggal satu jam. Setelah diserang badai sebenarnya Kapten Gering telah menghitung untuk melakukan pendaratan di bandara luar Makassar. Namun dia tidak mau berspekulasi karena di mana-mana cuaca buruk. “Dengan sisa terbang satu jam kita tidak mau ambil resiko. Ya, kalau bisa sampai dalam waktu satu jam. Kalau enggak kita bisa mendarat di pantai mas,” jelas Gering.

Sehingga dengan sedikit kenekatan mereka me-request Bandara Hasanuddin untuk membuka runway hingga melakukan pedaratan .Gering juga menjelaskan saat diserang badai dia juga telah pasrah. “Saya juga bisa merasakan apa yang terjadi pada teman-teman tadi kok,” katanya sambil melirik salah seorang wartawan.

Mengenai radar yang dimatikan saat ada serangan badai, Gering menjelaskan bahwa kita semua tahu bahwa pesawat sedang dalam kondisi berat. Sehingga radar pesawat dimatikan saja agar tidak menambah ketegangan karena menyaksikan radar dipenuhi warna merah.

Tentang kenekatan saat medarat ‘darurat’ sejumlah kru pesawat lain dan petugas bandara sempat menggeleng-gelengkan kepala. “Gila mas, berani banget pilotnya,” ujar seorang petugas bandara yang berdiri di kantin TNI AU. Gering sendiri harus mengambil resiko itu karena tidak mungkin mengambil keputusan untuk mendaratkan pesawatnya di tempat lain.  (Dodo Hawe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: