dodo hawe

Menjadi Foto Jurnalis

In fotojurnalistik, pengalaman pribadi on March 16, 2009 at 4:01 pm

| PEWARTA FOTO | Fotojurnalistik belakangan menjadi trend di kalangan sejumlah fotografer. Meski sebagian fotografer menganggap bahwa kerja foto jurnalis adalah kerja gila. Namun sebenarnya menjadi foto jurnalis (wartawan foto) sangatlah mengasyikan.
Pekerjaan ini sangat cocok bagi seseorang yang memiliki jiwa petualang. Kerja seorang wartawan foto secara umum tidak monoton, setiap hari selalu memiliki pengalaman baru. Selalu bertemu dengan orang yang berbeda. Bahkan peristiwa yang dihadapipun selalu tidak sama. Dan setiap hari selalu menghadapi masalah yang berbeda pula.
Bagi seorang pemula fotografi, rasanya disarankan untuk mencoba, menimba pengalaman sebagai foto jurnalis.

1


Kerja wartawan foto maupun jurnalis umum tidak memiliki jam kerja yang jelas, karena tidak ditentukan oleh waktu yang mengikat. Pekerjaan bisa dilakukan, pagi, siang malam dst. Namun dalam melakukan tugas kesehariannya selalu dihadapkan pada masalah waktu yang mengikat, karena dikejar-kejar deadline.
Tugas seorang foto jurnalis, tidak hanya memotret belaka. Ada tiga pekerjaan pokok yang harus dilakukan oleh seorang foto jurnalis yaitu; Memotret, Menulis, Memilih dan Menyimpan.
Memotret – Kerja utama seorang foto jurnalis adalah melakukan peliputan dengan kamera. Dengan kemampuan fotografinya diharapkan menghasilkan foto-foto yang menarik dan mampu menyampaikan informasi yang dibutuhkan pembaca. Memotret dari berbagai angle dan moment yang ada, sehingga banyak variasi foto yang dihasilkan.

Menulis – Foto jurnalis wajib menuliskan keterangan dan metadata ke dalam setiap foto-foto hasil kerjanya. Selain itu seorang foto jurnalis diharapkan juga mampu mendapatkan data-data dan menulis, menggantikan posisi seorang wartawan tulis, yang berhalangan hadir medan peliputan.

Memilih – Foto jurnalis juga berhak memilih foto-foto dengan mengusulkan berbagai macam angle untuk diajukan ke meja editor foto.

Menyimpan – Selain memotret seorang foto jurnalis juga memiliki tugas rutin untuk meriset foto-foto hasil kerjanya. Penyimpanan foto hasil kerja ini, biasanya dibantu oleh seorang periset foto yang bertugas.

Banyaknya tugas dan kerja yang terus berada dilapangan dengan berbagai macam medan yang berbeda menjadikan seorang foto jurnalis memiliki banyak pengalaman dan ketajaman dalam melihat berbagai macam persoalan. Sehingga tidak heran jika naluri seorang foto jurnalis sangat tajam, ketika membaca berbagai macam persoalan yang dihadapi.
Lapangan juga membuat seorang foto jurnalis memiliki insting yang kuat. Kekuatan instingnya ini, tidak jarang pula seorang foto juralis mampu mengantisipasi sebuah peristiwa yang tak terduga datangnya.
Kerja lapangan tidak hanya memberikan banyak pengalaman, namun memberikan banyak kreativitas dan kecepatan dalam menangkap mement yang mereka lihat. Dengan kreativitasnya itu, tak heran jika foto-foto yang dihasilkan memiliki kekuatan dan kedalaman.

Berikut beberapa tips-tips seorang pemula yang memulai karirnya di dunia fotojurnalistik:
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang pemula untuk menjadi foto jurnalis (wartawan foto) di antaranya :
Kesiapan mental, menjadi faktor penting bagi seorang foto jurnalis. Mental perlu dipersiapkan secara matang agar tidak mengganggu dalam melakukan tugas-tugas peliputan nantinya. Selain itu seorang foto jurnalis juga harus, siap berada di segala medan, siap bekerja dengan ritme yang tinggi, tanpa jam kerja yang jelas, siap bekerja dibawah tekanan, karena dikejar-kejar deadline.

Selain itu perlu memperhatikan hal-hal yang menyangkut emosional dalam memotret :

1. Jangan grogi : Hilangkan perasaan malu, takut mendekati subyek, tidak yakin dengan apa yang diperbuat.
* Kebanyakan para pemula merasa ragu karena takut, segan saat medekat ke subyek foto, sehingga akan mempengaruhi hasil kerja.

2. Tariklah napas panjang jika perasaan nerves masih menghantui perasaan. Ketika telah berada di dekat subyek foto sadarlah bahwa Anda melakukan tugas sebagai pemotret bukan penonton. Posisikan diri Anda sebagai seorang foto jurnalis yang akan mengabadikan setiap gerakan subyek foto.

3. Jangan memotret asal jadi dan seadanya. Menuggulah momentum yang tepat saat menekan shutter (tombol) kamera. Bidiklah obyek agar tepat sasaran dan benar-benar telah masuk dalam bingkai pada rana kamera secara tepat. Lihatlah sisi kanan kiri atas bawah bahwa posisi obyek telah berada di posisi yang diinginkan.

4. Buatlah komposisi yang menarik, dengan menunggu moment yang tepat saat menekan shutter speed (timbol kamera). Untuk mendapatkan komposisi pilihlah tempat yang sesuai dengan gambar yang diinginkan. Dengan melakukan pemotretat dari angle atas angle bawah dan sisi depan sisi samping kiri maupun kanan. Letakan subyek yang difoto pada sisi bingkai pada foto yang tepat.

5. Buatlah foto sebanyak-banyaknya yang sesuai, sehingga mendapatkan angle yang diinginkan. Jagan hanya mengambil foto satu dua shot kemudian ditinggal pergi. Membuat foto dengan sudut pengambilan medium shot, longshot dan detail (dekat) menjadikan hasil kerja pemotretan Anda lebih bervariasi. Sehingga memberikan peluang editor foto, lebih leluasa dalam memilih foto.
Mendekatlah pada subyek foto untuk mendapatkan foto yang detail dan jelas.

6. Perhatikan kejadian-kejadian yang unik, menarik, aneh yang kemungkinan terjadi secara tiba-tiba disekitar Anda. Peristiwa seperti ini biasanya sangat menarik untuk dipotret misalnya, orang jatuh, orang tertidur, anak kecil nyelonong ke depan dsb. Sabarlah menunggu ekspresi atau gerakan obyek yang difoto sehingga menghasilkan gambar dengan ekspresi atau gerakan yang menarik saat difoto.

7. Taruhlah kamerka ditempat yang mudah diambil, dalam posisi siap jika dibutuhkan secara cepat. Kalau perlu kamera jangan sampai lepas dari tangan Anda. Sehingga bila ada kejadian yang datangnya tiba-tiba, tangan kita secara reflek akan dengan mudah mengabadikan kejadian itu.

8. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Evaluasi langsung apa kekurangan dari foto-foto yang baru saja kita hasilkan.

9. Catatlah (membuat caption atau teks foto) setiap kejadian yang terjadi ke dalam isian metadata yang telah tersedia. (dodo hawe, berbagai sumber)

  1. Nice share!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: