dodo hawe

Memegang Rambut Wapres

In fotojurnalistik on March 24, 2009 at 3:24 pm

Pegang Rambut -

Pegang Rambut - Ibu-ibu berlarian untuk berebut bersalaman dengan Wapres Jusuf Kalla. Namun salah satu dari mereka justru memegang rambut Wapres. Foto Erfan Hazransyah, foto diambil pada 7 April 2008

| REFLEKS FOTO JURNALIS | Foto hasil bidikan fotografer Erfan Hazransyah ini, cukup menggelitik dan merupakan foto langka yang jarang terjadi. Foto dimuat di Harian Surya Surabaya pada 7 April 2008 lalu, ketika Wapres Jusuf Kalla berkunjung di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Foto menggambarkan ibu-ibu yang saling berebut untuk bisa mendekat ke mobil Wapres yang sedang melaju. Ada seorang ibu-ibu yang mencoba memotret menggunakan ponselnya, dan seorang ibu berhasil memasukan tangannya ke dalam mobil melalui cendela yang terbuka.
Sambil berlari mengejar mobil, ibu-ibu itu terus berupaya menyentuh RI2 yang sedang duduk di dalam mobilnya. Rupanya mujur, nasip ibu-ibu berbaju warna krem, terlihat tangannya berhasil merogoh dan memegang rambut sang Wapres.
Kecepatan tangan ibu-ibu ini, berhasil menerobos pengamanan presiden, yang masuk pada pengamanan ring satu. Pada situasi seperti itu, seorang fotografer memang dituntut memiliki kejelian dan kecepatan dalam membidik sebuah moment yang dalam sekejap cepat berlalu.

Kejujuran dalam Foto Jurnalistik

In fotojurnalistik on March 24, 2009 at 11:56 am

anak waduk

Anak waduk - Keceriaan anak-anak Waduk Dawuhan Kabupaten Madiun. Foto diambil Juni 2004. foto: dodo hawe

| KEJUJURAN | Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang bertujuan dalam permotretannya karena keinginan bercerita kepada orang lain, memberikan informasi tentang suatu peristiwa dalam bentuk visual gambar (berupa hasil karya foto). Jadi foto jenis ini kepentingan utamanya adalah keinginan dalam menyampaikan pesan (massage) visual pada orang lain dengan maksut agar orang yang melihat melakukan sesuatu tindakan psikis maupun psikologis atas karya yang disajikan.
Tak hanya berita. Tidak sedikit, sajinan fotojurnalistik yang dimuat di sebuah media cetak misalnya, langsung mendapat respon dari sebuah isntitusi, lembaga pemerintahan. Misalnya foto jalan rusak, kubangan berbahaya, langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota setelah foto-foto itu dimuat di media cetak. Memang selain sebagai alat komunikasi, fotojurnalistik juga dapat dijadikan sebagai alat kritik sosial.
Namun demikian dalam perkembangannya, fotojurnalistik saat tidak hanya dibuat oleh wartawan media cetak saja. Munculnya media online, blog, citizen jurnalist, juga mampu memberikan wacana baru, paradikma baru, terhadap masyarakat luas dalam berkomunikasi.

Menjadi Citizen Photojournalist

In fotojurnalistik on March 23, 2009 at 11:57 pm
bonek1

Ngebut - Seorang pembalap jalanan saat melintas di kawasan Jl Kertajaya Surabaya. Ngebut di jalanan seperti ini menjadi trend kalangan anak-anak muda di era tahun 1990-an. Foto diambil tahun 1994.

| CITIZEN JOURNALIST | Di dunia jurnalistik, perkembangan citizen journalism ini mungkin merupakan fenomena baru. Informasi yang dikembangkan oleh komunitas ini, juga memiliki kekuatan yang tidak kalah  dahsyatnya dengan media cetak.  Mungkin saja ini juga merupakan pasar potensial untuk mengembangkan sebuah bisnis portal. Seperti yang dilakukan oleh situs www.kompasimages.com, belakangan sedang mengembangkan dan membangun situs komunitas, khusus photojournalist warganegara atau citizen photojournalist. Tentu saja situs www.citizenimages.kompas.com ini merupakan situs yang memberikan wadah kepada komunitas  photojournalist  dunia maya untuk berkreasi dalam membangun dan mencari bentuk aktualitas diri. Dalam setiap penyajian, foto-foto para bloger itu diharapkan memiliki kaidah-kaidah sesuai kode etik dan aturan main dari fotojurnalistik.
Apa itu fotojurnalistik? seperti yang telah dijelaskan di dalam tulisan sebelumnya, bahwa fotojurnalistik sebuah sajian informasi dalam bentuk visual yang disiarkan di media baik itu media cetak maupun online.