<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JurnalFOTO</title>
	<atom:link href="http://dodohawe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dodohawe.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Mar 2009 10:02:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dodohawe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JurnalFOTO</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dodohawe.wordpress.com/osd.xml" title="JurnalFOTO" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dodohawe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memegang Rambut Wapres</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/24/memegang-rambut-wapres/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/24/memegang-rambut-wapres/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 15:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[jusuf kalla]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan]]></category>
		<category><![CDATA[pegang rambut]]></category>
		<category><![CDATA[Reflek fotojurnalis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[&#124; REFLEKS FOTO JURNALIS &#124; Foto hasil bidikan fotografer Erfan Hazransyah ini, cukup menggelitik dan merupakan foto langka yang jarang terjadi. Foto dimuat di Harian Surya Surabaya pada 7 April 2008 lalu, ketika Wapres Jusuf Kalla berkunjung di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto menggambarkan ibu-ibu yang saling berebut untuk bisa mendekat ke mobil Wapres yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=141&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_142" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-142" title="Pegang rambut Wapres" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/kalla.jpg?w=300&#038;h=198" alt="Pegang Rambut - " width="300" height="198" /><p class="wp-caption-text">Pegang Rambut - Ibu-ibu berlarian untuk berebut bersalaman dengan Wapres Jusuf Kalla. Namun salah satu dari mereka justru memegang rambut Wapres. Foto Erfan Hazransyah, foto diambil pada 7 April 2008 </p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| REFLEKS FOTO JURNALIS |</strong> Foto hasil bidikan fotografer Erfan Hazransyah ini, cukup menggelitik dan merupakan foto langka yang jarang terjadi. Foto dimuat di <a title="surya.co.id" href="http://www.surya.co.id" target="_blank">Harian Surya Surabaya</a> pada 7 April 2008 lalu, ketika Wapres Jusuf Kalla berkunjung di Kabupaten Malang, Jawa Timur.<br />
Foto menggambarkan ibu-ibu yang saling berebut untuk bisa mendekat ke mobil Wapres yang sedang melaju. Ada seorang ibu-ibu yang mencoba memotret menggunakan ponselnya, dan seorang ibu berhasil memasukan tangannya ke dalam mobil melalui cendela yang terbuka.<br />
Sambil berlari mengejar mobil, ibu-ibu itu terus berupaya menyentuh RI2 yang sedang duduk di dalam mobilnya. Rupanya mujur, nasip ibu-ibu berbaju warna krem, terlihat tangannya berhasil merogoh dan memegang rambut sang Wapres.<br />
Kecepatan tangan ibu-ibu ini, berhasil menerobos pengamanan presiden, yang masuk pada pengamanan ring satu. Pada situasi seperti itu, seorang fotografer memang dituntut memiliki kejelian dan kecepatan dalam membidik sebuah moment yang dalam sekejap cepat berlalu.<span id="more-141"></span><br />
Kecepatan, kejelian akan menjadi sempurna apabila diikuti insting yang bagus, yang akan menghasilkan reflek seorang fotojurnalis dalam membidik moment secara cepat.<br />
Erfan rupanya memiliki naluri dan reflek serta antisipasi yang cukup cekatan, saat melihat mement seperti itu. Buktinya keberhasilan ibu-ibu yang berusaha memagang rambut Jusuf Kalla ini, juga diikuti keberhasilan Erfan dalam menekan tombol shutter speed kameranya.<br />
Bukan perkara gampang juga, karena seorang foto jurnalis saat merangsek dan mendekati pejabat penting seperti Presiden atau Wakil Presiden, pasti akan berhadapan dengan petugas pengamanan terlebih dahulu.<br />
Namun rupanya rintangan itu berhasil diterobos oleh fotografernya, bersamaan dengan berbaurnya ibu-ibu yang berlarian mendekati mobil Wapres. Dan kecepatan langka inipun berhasil diabadikan pada saat yang tepat.  <strong>dodo hawe</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=141&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/24/memegang-rambut-wapres/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/kalla.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pegang rambut Wapres</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kejujuran dalam Foto Jurnalistik</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/24/kejujuran-dalam-foto-jurnalistik/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/24/kejujuran-dalam-foto-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 11:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[citizen journalist]]></category>
		<category><![CDATA[citizen jurnalism]]></category>
		<category><![CDATA[foto yang sukses]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[moralitas]]></category>
		<category><![CDATA[trush]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[&#124; KEJUJURAN &#124; Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang bertujuan dalam permotretannya karena keinginan bercerita kepada orang lain, memberikan informasi tentang suatu peristiwa dalam bentuk visual gambar (berupa hasil karya foto). Jadi foto jenis ini kepentingan utamanya adalah keinginan dalam menyampaikan pesan (massage) visual pada orang lain dengan maksut agar orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=130&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong></strong></span></p>
<div id="attachment_138" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><strong><img class="size-medium wp-image-138" title="anak-anak" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/11pp-051.jpg?w=300&#038;h=196" alt="anak waduk" width="300" height="196" /></strong></strong><p class="wp-caption-text">Anak waduk - Keceriaan anak-anak Waduk Dawuhan Kabupaten Madiun. Foto diambil Juni 2004. foto: dodo hawe</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| KEJUJURAN |</strong> Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang bertujuan dalam permotretannya karena keinginan bercerita kepada orang lain, memberikan informasi tentang suatu peristiwa dalam bentuk visual gambar (berupa hasil karya foto). Jadi foto jenis ini kepentingan utamanya adalah keinginan dalam menyampaikan pesan (massage) visual pada orang lain dengan maksut agar orang yang melihat melakukan sesuatu tindakan psikis maupun psikologis atas karya yang disajikan.<br />
Tak hanya berita. Tidak sedikit, sajinan fotojurnalistik yang dimuat di sebuah media cetak misalnya, langsung mendapat respon dari sebuah isntitusi, lembaga pemerintahan. Misalnya foto jalan rusak, kubangan berbahaya, langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota setelah foto-foto itu dimuat di media cetak. Memang selain sebagai alat komunikasi, fotojurnalistik juga dapat dijadikan sebagai alat kritik sosial.<br />
Namun demikian dalam perkembangannya, fotojurnalistik saat tidak hanya dibuat oleh wartawan media cetak saja. Munculnya media online, blog, citizen jurnalist, juga mampu memberikan wacana baru, paradikma baru, terhadap masyarakat luas dalam berkomunikasi.</span><span id="more-130"></span><br />
<span style="color:#800000;"> Begitu halnya dengan photojurnalistik, juga mengalami hal yang sama. Kini media online mampu menyajikan informasi secara cepat dan akurat. Tidak lama lagi kecepatan penyajian fototojurnalistik online bisa menggantikan posisi fotojurnalistik media cetak. Perkembangan fotojurnalistik saat ini juga mengalami perubahan yang signifikan. Munculnya citizen photojurnalist juga memberikan warna baru terhadap perkembangan fotojurnalistik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Berikut ini, akan kembali membahas sekilas tentang fotojurnalistik. Banyak orang awam beranggapan bahwa yang disebut fotojurnalistik itu hanyalah foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto saja. Padahal fotojurnalistik sebenarnya mencakup hal yang sangat luas. Foto-foto advertensi, kalender, postcard adalah juga bisa dikatakan jenis fotojurnalistik.<br />
Dalam buku serial Photojournalistic yang diterbitkan oleh Time Life diungkapkan bahwa: Sementara foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto seperti yang kita lihat di media massa adalah pers foto (foto berita) yang penekanannya pada perekaman fakta otentik yang terjadi ditengah masyarakat.<br />
Misalnya foto yang menggambarkan kebakaran, kecelakaan, penggusuran, dsb. Foto berita, foto advertensi dan sebagainya, itu semua sebenarnya ingin menceritakan sesuatu yang pada gilirannya akan membuat orang tersebut bertindak (feedback) . Foto-foto jurnalistik ini disiplinnya lebih banyak  membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pengaruh imaji (gambar) bagi pemerhatinya.<br />
Dari uraian di atas jelaslah bahwa fotojurnalistik yang baik adalah foto yang memiliki pesan yang jelas dari sebuah peristiwa, tetapi dibuat dengan kemampuan teknologi secara otentik berupa kamera dan disiarkan ke tengah masyarakat.<br />
Untuk mencapai ini tentu kita harus menguasai dua basis yang berbeda. Yaitu pendekatan teknis dan pendekatan konseptual. Pada pendekatan teknis, seorang fotojurnalis dituntut mengetahui dan menguasai betul segala aspek teknis dalam pemotretan yang mencakup, kamera, lensa dan aksesoris dan lainnya, sebagai penunjang untuk menghasilkan karya. Sedang pendekatan koseptual, ada terkait sejauh mana hasil karya itu memeliki pesan yang akan disampaikan ke tengah masyarakat.<br />
Definisi dari fotojurnalistik dapat diketahui dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada foto yang dihasilkan itu. Biasanya foto jurnalistik memiliki ciri-ciri yang melekat seperti; Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri, melengkapi suatu berita/artikel dan dimuat dalam suatu media baik media cetak maupun media online.<br />
Sebenarnya sebuah fotojurnalistik dapat berdiri sendiri, tapi sajian berita jurnalistik tanpa foto rasanya kurang lengkap. Sehingga timbul pertanyaan, mengapa foto begitu penting? Karena foto merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa dan memiliki akurasi yang hakiki. Selain itu foto juga memberikan dimensi lain, terhadap sebuah tampilan dalam media. Foto juga memberikan keyakinan dan sebagai bukti kebenaran dari sebuah berita yang disampaikan oleh sebuah media kepada pembacanya.<br />
Kebenaran sebuah peristiwa tak bisa terbantahkan dengan kehadiran sebuah karya fotojurnalistik. Di dalam fotojurnalistik sendiri tidak ada seuatu yang dibuat-buat, tidak ada sesuatu yang direkayasa. Perstiwa begitu saja terjadi, yang kemudian diabadikan dalam sebuah bentuk visual berupa gambar yang kemudian disiarkan melalui media cetak maupun online, yang dilengkapi data sebagai mendukungnya.<br />
Maka diharamkan apabila seorang jurnalis foto melakulan rekayasa dengan menambah, mengurangi atau mengubah terhadap karya fotonya. Karya foto memang benar-benar terjadi apa adanya. Sebuah fakta yang terjadi yang direkam dalam sebuah media visual berupa gambar.<br />
Itu sebabnya seorang fotojurnalis dituntut memiliki moralitas dan kejujuran yang sangat tinggi. Seorang jurnalis yang pembohong, akan menipu pembacanya dengan melakukan manipulasi fakta dan kejadian. Dengan kejujurannya, moralitas dan idialisme yang positif, seorang fotojurnalis mampu menyajikan sebuah fakta yang memang benar-benar ada.<br />
Menurut mantan Redaktur Foto Kompas almarhum Kartono Ryadi, semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi. Perbedaan foto jurnalis adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalistik berarti memilih foto mana yang cocok.<br />
Lantas dia mencontohkan dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memotret seluruh peristiwa. Mulai dari penerimaan tamu hingga usai acara. Tapi seorang wartawan foto hanya mengambil sisi-sisi yang dianggap menarik saja. Karena memang peristiwa itu nantinya akan menjadi pilihan wartan foto untuk dimuat di dalam medianya saja.<br />
Jadi yang membedakan foto jurnalistik dengan foto dokumentasi itu sebatas pada apakah foto itu dipublikasikan di media massa atau tidak. Hal lain yang menjadi nilai suatu foto jurnalistik juga ditentukan oleh beberapa unsur di antaranya;<br />
Aktualitas, berhubungan dengan berita. Kejadian luar biasa, promosi, kepentingan, human interest dan universal yang selalu terkait dengan kepentingan manusia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Foto yang sukses</strong><br />
Batasan sukses atau tidaknya sebuah foto jurnalistik tergantung pada persiapan yang matang dan kerja keras bukan pada keberuntungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada foto yang merupakan hasil dari “being in the right place at the right time” (berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat). Ini merupakan hadiah dari Tuhan. Sehingga, akibat keberuntungannya itu bisa mengabadikan peristiwa yang langka, bersejarah, kejadian besar dsb.<br />
Tetapi seorang foto jurnalis profesional adalah seorang jurnalis yang melakukan riset terhadap subjek fotonya dan mampu menetukan peristiwa potensial dan foto seperti apa yang akan mendukungnya. Itu semua sangat penting mengingat suatu moment yang baik hanya berlangsung sekian detik dan mustahil untuk diulang kembali.<br />
Selain itu seorang foto jurnalis juga harus memiliki etika, empati dan hati nurani. Ketiga hal itu merupakan hal yang amat penting dan menjadi sebuah nilai lebih yang ada dalam diri seorang foto jurnalis. Seorang foto jurnalis juga harus bisa menggambarkan kejadian sesungguhnya lewat karya fotonya.<br />
Intinya foto yang dihasilkan harus bisa bercerita sehingga tanpa harus menjelaskan orang sudah mengerti isi (pesan) dari foto tersebut dan hal penting tidak melakukan manipulasi dalam foto tersebut. Itu sebabnya seorang foto jurnalis harus memiliki moral dan kejujuran terhadap karya-karyanya. Sebuah fotojurnalistik harus menampilkan kebenaran, apa adanya dan tidak ada rekayasa dalam karya yang dihasilkannya.<br />
Sejauh mana manipulasi itu dilakukan? Sebenarnya tidak ada ketentuan yang secara rinci menyebutkan boleh tidaknya manipulasi itu dilakukan, namun sejak awal perjalanan fotojurnalistik adalah sebuah foto yang direkam atas peristiwa yang terjadi. Seorang wartawan foto dari Time, John Stanmayer mengatakan bahwa foto jurnalistik adalah fotografi kebenaran, yang merupakan fotografi berkekuatan lebih besar.<br />
Sehingga akan menodai keberadaan fotojurnalistik yang disajikan secara apaadanya, jika seorang fotojurnalis melakukan manipulasi terhadap hasil karyanya. Meski demikian tidak ada sangsi jelas, terhadap seseorang fotojurnalis yang melakukan manipulasi hasil karyanya itu. Namun hanya sangsi moral, penyesalan, yang akan membebani seorang fotojurnalis yang memanipulasi dan melakukan kebohongan terhadap karya fotonya sendiri. Itulah sebabnya seorang jurnalis harus memiliki moralitas dan idialisme yang baik.<br />
Meski demikian dalam kenyataannya media cetak tetap melakukan rekayasa foto dengan melakukan penggabungan di photoshops. Dalam kasus ini, media cetak wajib mencantumkan keterangan di bawah foto yang dibuah ilustrator dengan memberi penjelasan fotorekayasa (montage). Pemberian keterangan ini, wajib diberikan untuk memberi penjelasan kepada pembaca bahwa foto yang ditampilkan adalah bukan fotojurnalistik.  <strong>dodo hawe</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=130&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/24/kejujuran-dalam-foto-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/11pp-051.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">anak-anak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Citizen Photojournalist</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/23/menjadi-citizen-photojournalist/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/23/menjadi-citizen-photojournalist/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 23:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[blog journalist]]></category>
		<category><![CDATA[citezen photojournalist]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[&#124; CITIZEN JOURNALIST &#124; Di dunia jurnalistik, perkembangan citizen journalism ini mungkin merupakan fenomena baru. Informasi yang dikembangkan oleh komunitas ini, juga memiliki kekuatan yang tidak kalah  dahsyatnya dengan media cetak.  Mungkin saja ini juga merupakan pasar potensial untuk mengembangkan sebuah bisnis portal. Seperti yang dilakukan oleh situs www.kompasimages.com, belakangan sedang mengembangkan dan membangun situs [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=116&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_122" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-122" title="bonek" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/bonek1.jpg?w=300&#038;h=208" alt="bonek1" width="300" height="208" /><p class="wp-caption-text">Ngebut - Seorang pembalap jalanan saat melintas di kawasan Jl Kertajaya Surabaya. Ngebut di jalanan seperti ini menjadi trend kalangan anak-anak muda di era tahun 1990-an. Foto diambil tahun 1994. </p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| CITIZEN JOURNALIST |</strong> Di dunia jurnalistik, perkembangan citizen journalism ini mungkin merupakan fenomena baru. Informasi yang dikembangkan oleh komunitas ini, juga memiliki kekuatan yang tidak kalah  dahsyatnya dengan media cetak.  Mungkin saja ini juga merupakan pasar potensial untuk mengembangkan sebuah bisnis portal. Seperti yang dilakukan oleh situs <a title="kompas.com" href="http://www.kompas.com" target="_blank">www.kompasimages.com</a>, belakangan sedang mengembangkan dan membangun situs komunitas, khusus photojournalist warganegara atau citizen photojournalist. Tentu saja situs <a title="citizenimages.kompas.com" href="http://www.citizenimages.kompas.com" target="_blank">www.citizenimages.kompas.com</a> ini merupakan situs yang memberikan wadah kepada komunitas  photojournalist  dunia maya untuk berkreasi dalam membangun dan mencari bentuk aktualitas diri. Dalam setiap penyajian, foto-foto para bloger itu diharapkan memiliki kaidah-kaidah sesuai kode etik dan aturan main dari fotojurnalistik.<br />
Apa itu fotojurnalistik? seperti yang telah dijelaskan di dalam tulisan sebelumnya, bahwa fotojurnalistik sebuah sajian informasi dalam bentuk visual yang disiarkan di media baik itu media cetak maupun online.<span id="more-116"></span><br />
Ada beberapa ciri-ciri fotojurnalistik di antaranya, memiliki berita atau menjadi berita itu sendiri, Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri, melengkapi suatu berita/artikel dan dimuat dalam suatu media baik cetak maupun online.<br />
Selain itu fotojurnalistik memiliki karakteristik di antaranya adalah; gabungan antara berita dan foto, disajikan dengan jujur, lingkup manusia, memberikan informasi dari sebuah kejadian atau berita, akurasi dan sebagai media komunikasi visual dalam bentuk gambar. Dari penjelasan tersebut, paling tidak dapat dijadikan referensi atau panduan para citizen photojournalist yang sedang menyiarkan foto-fotonya diblog mereka.<br />
Yang tidak kalah penting dalam penyajian sebuah fotojurnalistik adalah memberian metadata foto terhadap setiap foto-foto yang disiarkan. Di dalam metadata terdapat teks foto (caption) yang selalu menyertai foto-foto yang dipublikasikan.<br />
Teks foto memiliki arti yang penting, karena memberikan penjelasan terhadap peristiwa yang ada di dalam foto. Teks foto terdiri dari keterangan yang menyangkut 5W+1H. Tujuan utama dari teks foto adalah memberikan penjelasan terhadap sebuah foto yang disiarkan, kepada penikmatnya.<br />
Sehingga dengan visual gambar yang ditampilkan beserta teks fotonya, akan menjawab semua pertanyaan dari penikmat foto. Selain menjelaskan cerita foto yang disiarkan, penyebutan tempat, hari dan tanggal kajadian, adalah menjadi hal yang sangat penting.<br />
Penyebutan tempat, hari dan tanggal biasanya dibubuhkan pada akhir kalimat dalam keterangan foto. Penyebutan tempat, hari dan tanggal ini sebagai upaya untuk menjelaskan kepada penikmat foto tentang akurasi dan kebenaran peristiwa secara tepat terhadap sebuah peristiwa yang diabadikan dalam bentuk gambar (foto).<br />
Di dalam fotojurnalistik juga diharamkan (tidak dibenarkan) memberikan tambahan gambar (montage) atau mengurangi gambar, merubah di dalam hasil rekaman foto yang dihasilkan. Editing foto yang diperbolehkan dalam penyajian fotojurnalistik hanyalah sebatas, gelap terang, menghilangkan dengan cara mengkroping sebagian gambar, karena menyangkut keindahan dan keseimbangan komposisi dalam foto itu.<br />
Dengan penguasaan dan pengetahuan dasar fotojurnalistik ini, diharapkan para bloger dalam menyajikan foto-fotonya mengacu pada kaidah fotojurnalistik. Selain itu, para bloger photojournalist ini, juga mampu menyampaikan foto-foto terbaiknya yang tidak menyesatkan dan menjerumuskan penikmat fotografi. Mampu menyajikan foto yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, seperti halnya fotojurnalistik dari kalangan wartawan foto media. Salam. <strong>dodo hawe</strong><br />
</span></p>
<p><span style="color:#800000;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=116&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/23/menjadi-citizen-photojournalist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/bonek1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bonek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komposisi dalam Fotografi</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/22/komposisi-dalam-fotografi/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/22/komposisi-dalam-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 14:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[&#124; FOTOGRAFI &#124; Komposisi dalam fotografi pada dasarnya adalah penyusunan elemen yang ada disekitar obyek foto yang kemudian kita rangkai ke dalam sebuah bingkai (frame). Penyusunan elemen itu dimaksutkan untuk menghasilkan sebuah gambar yang memiliki keseimbangan antara warna, garis-garis, gelap terang dsb. Dari keinginan itu, sehingga terjadi sebuah pencitraan gambar yang menarik untuk kita lihat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=110&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_113" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-113" title="antre" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/mobiltangki_mogok.jpg?w=300&#038;h=194" alt="atre" width="300" height="194" /><p class="wp-caption-text">ANTRE - Antrean panjang ketika terjadi kelangkaan BBM di Depo Plumpang pada tahun 2002. Foto: dodo hawe</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">| <strong>FOTOGRAFI</strong> | Komposisi dalam fotografi pada dasarnya adalah penyusunan elemen yang ada disekitar obyek foto yang kemudian kita rangkai ke dalam sebuah bingkai (frame). Penyusunan elemen itu dimaksutkan untuk menghasilkan sebuah gambar yang memiliki keseimbangan antara warna, garis-garis, gelap terang dsb. Dari keinginan itu, sehingga terjadi sebuah pencitraan gambar yang menarik untuk kita lihat.<br />
Penguasaan komposisi dalam memotret sangatlah penting. Karena keberhasilan seorang fotografer sebenarnya terletak pada daya kreativitasnya dalam membuat kompoisi, di samping penguasaan tehnik fotografi.<br />
Dalam memotret tentu kita banyak memiliki pilihan angle (sudut pengambilan) apakah itu dari samping, depan, atas, bawah atau dari mana saja, sesuai keinginan pemotret. Pemilihan angle masing-masing pemotret pasti tidak sama.<br />
Bagi seorang pemula seringkali dihadapkan pada berbagai masalah saat menentukan posisi yang tepat dalam memotret. Namun, yang terjadi bingung, tidak yakin dan kurang pede, kerap menyelimuti perasaan saat melakukan pemotretan.</span><span id="more-110"></span><br />
<span style="color:#800000;"> Hal ini karena fotografer tidak memiliki bekal yang cukup tentang komposisi dan sudut pengambilan yang tepat saat memotret. Bahkan si fotografer tidak memiliki target, hasil foto yang diinginkan nanti seperti apa, sehingga ide menjadi kosong.<br />
Itu sebabnya, ketika hendak memotret seorang fotogarafer sudah harus memiliki konsep terlebih dahulu. Paling tidak memiliki gambaran tentang foto yang akan di hasilkan nanti seperti apa. Dengan berbekal ide atau konsep tadi, seorang fotografer akan dengan mudah menempatkan posisi yang dianggap paling ideal dalam pemotretan, guna mencapai target (hasil foto) tadi.<br />
Sebenarnya dalam prakteknya, memotret tidak ada suatu keharusan untuk menentukan posisi yang tepat, apakah harus dari depan, dari samping dari atas dst. Semuanya diserahkan kepada fotografer itu sendiri. Karena hal ini tergantung dari keinginan atau kebutuhan gambar yang akan dihasilkan nanti.<br />
Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa dijadikan pedoman untuk membantu dalam menghasilkan sebuah komposisi yang baik. Ada beberapa pendekatan untuk medapatkan komposisi, di antaranya adalah :</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Obyek dominan/kontras</strong><br />
Dalam membuat komposisi sebaiknya harus ada satu obyek yang menjadi point of interest (pusat perhatian). Menjadi obyek yang mendominasi. Tanpa obyek yang dominan sebuah komposisi terasa hambar, tanpa nyawa. Ibarat sebuah cerita, harus ada satu tokoh yang menjadi lakon, dimana semua pemain menuju ke arah tokoh utama itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Balance/keseimbangan</strong><br />
Ada berbagai macam balance (keseimbangan) : simetris, radial, formal dan informal. Semua bisa teraplikasikan untuk mendapatkan keseimbangan visual, sehingga sebuah kompisisi tidak berat sebelah dan terasa enak dipandang mata.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Unity</strong><br />
Merupakan sebuah satu kesatuan. Itulah yang diharapkan penyusunan, meski banyak obyek yang berbeda-beda warna atau bentuk, sebuah komposisi harus menyatu. Makanya dalam sebuah komposisi harus ada the unifying element; sebuah elemen yang bisa menyatukan obyek yang bercerai-berai tadi: bisa warna, garis, maupun tekstur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Aligment/ garis semu</strong><br />
Salah satu prinsip yang tidak bisa diremehkan. prinsip ini tanpa disadari memberikan dinamisme, memberikan keteraturan. Garis semu diibaratkan besi sembrani yang menarik obyek-obyek disekitarnya dan mengikuti alur sang besi tadi. Hasilnya sebuah komposisi yang seolah-olah mengikuti pola, meski pola itu tak terlihat.<br />
<strong><br />
Repetisi/ konsistensi</strong><br />
Repetisi memberi irama. Ibarat musik, repetisi adalah ketukan. Dalam komposisi repetisi bisa menghasilkan kesan tapi dinamis. Obyek-obyek tersusun hampir sama, tapi setiap obyek berbeda. Senada tapi melonjak-lonjak. Itulah repetisi atau bisa juga dikatakan irama, atau boleh disebut konsistensi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>White Space</strong><br />
Seni &#8216;ketiadaan&#8217; adalah elemen penting dalam komposisi. Jika diterapkan dengan benar, white spece bisa memberi kesan elegan, nafas, istirahat. Dalam sebuah komposisi harus ada bidang tempat kita bersantai di antara carut marut obyek.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Balance</strong><br />
<strong>Assymmetrical balance</strong><br />
Pada Keseimbangan Asimetris, obyek-obyek foto tidak ditempatkan seperti sebuah obyek di depan cermin, melainkan bebas tetapi berat antara obyek-obyek di kiri seimbang dengan masa obyek-obyek yang ada di sebelah kanan.<br />
Tentu saja, untuk mendapatkan obyek-obyek yang sesuai dengan contoh-contoh di atas tidaklah mudah. Namun paling tidak ada kepastian, ada pemikiran, ada imajinasi dan ada patokan pada saat kita memidikan kamera kita ke obyek yang kita tuju.<br />
Dalam pemikiran yang bebas, sebenarnya tidak ada yang mengikikat seorang fotografer dalam menghasilkan sebuah gambar. Kita bisa melakukan ekplorasi sendiri dari diri kita, dalam mencari sudut pengambilan yang tepat untuk mendapatkan sebuah komposisi visual. Baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.<br />
Pada tingkatan tertentu sebenarnya fotografi adalah ibarat sebuah lukisan. Yang dalam penilaiannya sangatlah relatif dan berbeda-beda antara penikmat yang satu dengan menikmat yang lainnya.<br />
Menurut fotojurnalis senior Harian Kompas, Arbain Rambey, hasil dari sebuah fotografi adalah ibarat baju. Pilihan seseorang dalam memiliki baju, pasti tidak akan sama. Karena memang selera seseorang juga tidak sama, sehingga wajar kalau dalam pilihan-pilihan keseharian juga berbeda.<br />
Seorang fotografer sebenarnya memiliki kesamaan dengan seorang pelukis ataupun desainer. Seorang pelukis dan desainer untuk menghasilkan karyanya, dengan cara menciptakan komposisi, sedang seorang fotografer membuat komposisi melalui jendela kamera dari obyek-obyek yang ada di sekitarnya.<br />
Seorang fotografer, untuk mendapatkan sebuah komposisi adalah dengan cara melakukan ekplorasi dari obyek yang ada di sekitarnya. Lain halnya dengan seorang desainer atau seniman, yaitu membuat konsep sebelumnya, baru menciptakan komposisi, yang dituangkan dalam visual nyata.<br />
Kalau seorang fotografer imajinasi tidak bisa langsung diterapkan terhadap karya-karyanya. Namun banyak hal yang harus dilakukan, selain menerapkan tehnik-tehnik fotografi, juga diperlukan subyek atau momen yang ada di depan mata. Lain halnya dengan seorang desainer atau seniman. Imajinasi bisa langsung diaplikasikan ke dalam karya-karyanya dalam bentuk visual nyata baik berupa desain maupun dalam lukisan.<br />
Namun, secara umum sebenarnya kedua pekerjaan itu dituntut memiliki tingkat kreativitas yang sama. Semakin kreatif dalam melakukan pekerjaannya semakin menarik hasil yang dicapai.<br />
Kreativitas bervisual menjadi dasar terpenting bagi seorang fotografer dalam mengembangkan ide-ide kreatif terhadap hasil karyanya. Begitu juga bagi seorang seniman maupun desainer atau pekerja seni visual lainnya. <strong>dodo hawe</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=110&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/22/komposisi-dalam-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/mobiltangki_mogok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">antre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemahaman Tentang Metode Fotojurnalistik</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/20/metode-fotojurnalistik/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/20/metode-fotojurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 15:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[EDFAT]]></category>
		<category><![CDATA[metode fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[pemotretan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[&#124; METODE &#124; Masih terkait pembahasan visual bagi seorang foto jurnalis, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam membuat karya-karya fotonya. Walter Cronkite Schol of Jurnalism Telecommunication Arizona State University memperkenalkan metode untuk mendapatkan variasi visual angle dan pilihan dalam melakukan pengambilan sebuah obyek gambar dalam peliputan. Yang disebut dengan metode EDFAT. Metode ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=98&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_100" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-100" title="Reformasi Indonesia" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/bentroktamanria97-15.jpg?w=300&#038;h=201" alt="bentroktamanria97-15" width="300" height="201" /><p class="wp-caption-text">SEMANGGI - Bentrok mahasiswa di depan Tamanria, Jl Gatot Subroto Jakarta pada peristiwa Semanggi I 1997 yang berakir rusuh di kawasan Sudirman.</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| METODE |</strong> Masih terkait pembahasan visual bagi seorang foto jurnalis, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam membuat karya-karya fotonya. Walter Cronkite Schol of Jurnalism Telecommunication Arizona State University memperkenalkan metode untuk mendapatkan variasi visual angle dan pilihan dalam melakukan pengambilan sebuah obyek gambar dalam peliputan.</span><span style="color:#800000;"> Yang disebut dengan metode EDFAT. Metode ini adalah suatu metode pemotretan untuk melatih kepekaan dalam melihat sesuatu secara detail yang runtut dan tajam. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada setiap unsur dari metode itu adalah suatu proses dalam mengincar suatu bentuk visual atas peristiwa bernilai berita. Berikut ke lima tahapan metode dalam pemotretan itu:<strong></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Metode E (Entire)</strong> adalah tahapan yang dikenal juga sebagai Establised Shot, suatu keseluruhan pemotretan yang dilakukan begitu melihat suatu peristiwa atau bentuk penugasan lain, untuk mengintai bagian-bagian lain untuk dipilih sebagai obyek pemotretan.<span id="more-98"></span><br />
<strong>Metode D (Detail)</strong> suatu pilihan atas bagian tertentu dan keseluruhan pandangan terdahulu (entire). Dalam tahap ini dilakukan suatu pilihan pengambilan keputusan atas sesuatu yang dinilai paling tepat sebagai point of interest-nya. Pada tahap ini penglihatan dalam proses yang sedemikian cepat, diramu dengan pengetahuan jurnalistik yang memadai untuk menghasilkan imaji yang diinginkan.<br />
<strong>Metode F (Frame)</strong> tahap dimana kita membingkai suatu detail yang telah dipilih. Fase ini mengantar seorang calon foto jurnalis mengenal arti sebuah komposisi, pola, tekstur, dan bentuk obyek pemotretan secara akurat. Dalam pase ini rasa artistik seorang foto jurnalis semakin penting.<br />
<strong>Metode A (Angle)</strong> tahap dimana sudut pandang menjadi dominan pada fase sebagai pilihan untuk posisi dalam pengambilan gambar. Apakah itu dengan memilih sudut pengambilan dari ketinggian, kerendahan, level mata, kidal, kanan dan cara lain dalam melihat sudut pandang. Pada fase ini seorang foto jurnalis menjadi penting untuk mengkonsepsikan visual apa yang diinginkannya.<br />
<strong>Metode T (Time)</strong>, tahapan penentuan penyiaran dengan kombinasi yang tepat antara diafragma dan kecepatan (shutter speed) atas ke empat tingkatan metode yang telah disebutkan di atas. Pengetahuan teknis atas keinginan pembekuan gerak atau memilih ketajaman ruang adalah satu prasyarat dasar yang sangat diperlukan.<br />
Memilih metode ini sangat praktis kiranya, dan dapat dijadikan pedomanan dan kebiasaan, manakala seorang foto jurnalis pemula sedang mendalami fotojurnalistik. Paling tidak metode EDFAT ini membantu proses percepatan pengambilan keputusan terhadap suatu event atau kondisi visual bernilai berita, yang cepat dan lugas.<br />
Fotojurnalistik memang suatu profesi yang tidak sekadar menyajikan yang tersirat dalam foto yang dipublikasikan melalui beragam media canggih saat ini. Seorang fotojurnalis juga harus memiliki nurani dan tanggungjawab sosial atas karya-karyanya disamping keahlian dan kecekatan yang dimiliki.<br />
Untuk menghasilkan foto-foto yang berkualitas tentu saja dibutuhkan kesabaran dan kerja keras. Dan yang tak kalah penting seorang fotokurnalis sebagiknya juga harus memahami terhadap obyeknya. Untuk itu, dengan berbekal pengetahuan yang luas, seorang fotojurnalis akan dengan mudah bergaul, memahami kebiasaan-kebiasaan sosial masyarakat atas suatu peristiwa yang bernilai berita.<br />
Kecepatan dalam menangkap moment juga menjadi faktor penting bagi seorang fotojurnalis. Karena pada dasarnya hakekat dalam memotret itu adalah: Ada fakta/peristiwa (obyek yang difoto), Poin of interest (hal penting yang menjadi interes saat memotret), Penguasaan teknik fotografi (penguasaan terhadap alat), Hasil yang dicapai (karya yang baik).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"> ( <strong>Dodo Hawe</strong>)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=98&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/20/metode-fotojurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/bentroktamanria97-15.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Reformasi Indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah dan Pemahaman Fotojurnalistik</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/19/sejarah-dan-pemahaman-fotojurnalistik/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/19/sejarah-dan-pemahaman-fotojurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 12:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kerusuhan]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[&#124; SEJARAH &#124; Secara singkat dapat dijelaskan bahwa pada awalnya fotojurnalistik hanyalah sebagai foto pendukung sebuah penerbitan saja. Namun dalam perkembangannya fotojurnalistik tak lagi sebagai foto pelengkap. Tetapi fotojurnalistik berkembang pesat dan mampu menjadi sebuah foto berita secara mandiri tersendiri, yang mampu menghebohkan dunia. Dan kini fotojurnalistik tidak lagi hanya sebagai islustrasi (penglengkap) sebuah naskah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=90&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_91" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a title="DODOHAWEgallery" href="http://dodohawe.com/" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-91" title="Kerusuhan Jakarta" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/26dodo1.jpg?w=300&#038;h=203" alt="26dodo1" width="300" height="203" /></a><p class="wp-caption-text">RUSUH - Kerusuhan, pembakaran mobil milik ABRI di Perempatan Salemba kawasan Kampus UI Jakarta pada reformasi Indonesia 1998.</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| SEJARAH | </strong>Secara singkat dapat dijelaskan bahwa pada awalnya fotojurnalistik hanyalah sebagai foto pendukung sebuah penerbitan saja. Namun dalam perkembangannya fotojurnalistik tak lagi sebagai foto pelengkap. Tetapi fotojurnalistik berkembang pesat dan mampu menjadi sebuah foto berita secara mandiri tersendiri, yang mampu menghebohkan dunia.<br />
Dan kini fotojurnalistik tidak lagi hanya sebagai islustrasi (penglengkap) sebuah naskah berita di dalam sebuah penerbitan saja.<br />
Penggunaan teknik fotografi dalam media cetak baru terjadi pada akhir abad 19. Pada edisi tanggal 4 Maret 1877, surat kabar New York Daily Graphic yang terbit di Amerika Serikat memunculkan foto buah karya Henry J. Newton. Foto hitam putih yang menggambarkan pesona tambang pengeboran itu adalah foto perdana di dunia yang diterbitkan pada suatu media cetak. Sejak itu penggunaan foto sering kali menjadi pelengkap berita di dalam koran.<span id="more-90"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Sementara di Indonesia fotojurnalistik digunakan sebagai alat komunikasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Fotojurnalistik di Indonesia, pertama di buat oleh seorang warga negara Indonesia saat terjadi detik-detik ketika bangsa ini berhasil melepaskan diri dari belenggu rantai penjajahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei, dan adiknya Frans Soemarto Mendur (1913-1971), mengabadikan peristiwa pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia dengan kamera Leica.</span><span style="color:#800000;"> Pada saat itulah pada pukul 10.00 WIB pagi tanggal 17 Agustus 1945 saat dilaksanakan upacara pengibaran bendiri di Pegangsaan Timur, Jakarta foto jurnalis Indonesia lahir. Sejak reformasi tahun 1998, fotojurnalistik di Indonesia terus tumbuh, seiring kebebasan pers Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Menurut Oscar Motuloh dalam tulisannya yang berjudul Fotojurnalistik suatu pendekatan visual dengan suara hati, mengungkapkan fotojurnalistik memeiliki karakteristik diantaranya:<br />
1. Dasar fotojurnalistik adalah gabungan antara gambar dan kata. Keseimbangan tertulis pada teks gambar (teks foto) adalah mutlak. Caption atau teks foto membantu melengkapi informasi dan memahami sebuah imaji (gambar, foto) yang dibagi di tengah-tengah masyarakat.<br />
Sehingga keduanya antara gambar (foto) dan berita (teks) memiliki keterikatan yang tak bisa dipisahkan. Sebuah foto mampu memberikan informasi selengkap berita apabila dilengkapi teks foto.<br />
Berdasarkan standar IPTC International Press Telecomunication Council) teks foto harus selalu melekat di dalam foto itu sendiri. Penulisan teks foto bisa dilakukan pengeditan gambar di dalam photoshops, dengan menuliskannya di dalam file info yang telah tersdia.<br />
2. Mediun fotojurnalistik biasanya disajikan dalam bentuk cetak baik itu surat kabar, tabloid, media internal, brosur maupun kantor berita. Bahkan saat ini media online telah masuk dalam kategori ini, mengingat perkembangan multimedia yang terus tumbuh.<br />
Selain itu penyajian fotojurnalistik juga disajikan secara jujur, bagaimana adanya, tanpa ada rekayasa dalam penyajiannya.<br />
3. Lingkup fotojurnalistik adalah manusia. Itu sebabnya seorang jurnalisfoto mempunyai kepentingan mutlak pada manusia. Posisinya pada puncak piramida sajian dan pesan visual. Menurut<br />
Dinny Soutworth menyimpulkan merangkul manusia adalah pendekatan prioritas bagi seorang fotojurnalis, karena kerja dengan sobyek yang bernama manusia adalah segala-galanya dalam profesi tersebut.<br />
4. Bentuk liputan fotojurnalitik adalah suatu upaya yang muncul dari bakat dan kemampuan seseorang fotojurnalis yang bertujuan melaporkan beberapa aspek dari berita. Menurut Chick Harrity yang telah lama bergabung dengan kantor berita Associated Press (AP), USA dan US News&amp;World Report mengatakan, tugas seorang jurnalisfoto adalah melaporkan berita sehingga bisa memberi kesan pada pembacanya seolah-olah mereka hadir dalam peristiwa yang disiarkan itu.<br />
Tugas fotojunalis adalah melaporkan apa yang dilihat oleh mata kemudian merekam dalam sebuah gambar yang kemudian disampaikan secara luas melalui media massa. Yang memberi kesan bawa pembaca (masyarakat) seolah-olah berada dilokasi peristiwa itu.<br />
Itu sebabnya bagi seorang fotojurnalis sangat penting memiliki kemampuan dalam melakukan perekaman yang dituangkan dalam sebuah gambar yang dengan mudah dipahami oleh orang awam (masyarakat luas).<br />
5. Fotojurnalistik adalah fotografi komonukasi, dimana dalam penyajiannya bisa diekspresikan seorang fotojurnalis terhadap obyeknya. Obyek pemotretan hendaknya mampu dibuat berperan aktif dalam gambar yang dihasilkan, sehingga lebih pantas menjadi obyek aktif.<br />
Namun dalam perkembangannya kini fotojurnalistik juga merupakan media ekspresi seorang fotojurnalis terhadap hasil karya-karyanya setelah melakukan peliputan. Sehingga tak heran jika dalam sebuah media menyiapkan halamannya secara khusus untuk memajang berbagai macam foto-foto hasil liputan karya fotojurnalisnya.<br />
6. Pesan yang disampaikan dari suatu hasil visual fotojurnalistik harus jelas dan segera bisa dipahami, oleh seluruh lapisan masyarakat. Pendapat sendiri atau pengertian sendiri tidak dianjurkan dalam fotojurnalistik, apalagi melakukan rekayasa.<br />
Gaya pemotretan yang khas dengan polesan rasa seni, tidak menjadi batasan dalam berkarya. Yang penting pesan yang disampaikan dapat dikomunikasikan di tengah-tengah masyarakat.<br />
7. Fotojurnalistik membutuhkan tenaga penyunting yang handal, berwawasan visual yang luas, jeli, arif dan bermoral dalam menilai foto-foto yang dihasilkan oleh fotojurnalis. Seorang penyunting (editor foto) juga harus mampu membantu mematangkan ide-ide dan konsep fotojurnalis yang melakukan liputan terhasap sebuah peristiwa. Penyunting foto juga harus mampu memberi masukan, memilih foto agar tidak monoton, hingga melakukan pemotretan ulang terhadap foto-foto yang akan disiarkan.<br />
8. Karena fotojurnalistik menyajikan informasi yang berakurasi tinggi, seorang jurnalis secara langsung merekam peristiwa yang terjadi dilokasi tanpa merekayasa. Praktis karya-karya yang dihasilkan dari hasil peliputan fotojurnalis tak bisa terbantahkan oleh kata-kata. Pada setiap event seperti bentrokan, caos, aksi demo, dsb, seorang fotojurnalis selalu berada di garda paling depan, guna mengabadikan fakta-fakta yang terjadi melalui kameranya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Selain itu fotojurnalistik juga dapat didefinisi dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada gambar (foto) yang dihasilkan, antara lain:<br />
- Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri.<br />
- Melengkapi suatu berita/artikel.<br />
- Dimuat dalam suatu media (cetak, online).<br />
- Disajikan secara jujur.<br />
Seorang fotografer yang bekerja untuk Majalah Time, John Stanmeyer berpendapat, “fotojurnalistik adalah fotografi kebenaran, yang merupakan fotografi berkekuatan lebih besar yang bisa saya bayangkan atau yang saya buat,”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Menurut World Press Photo Foundation, penyelenggara lomba tahunan tentang fotojurnalistik di tingkat dunia mengelompkkan fotojurnalistik menjadi beberapa kategori di antaranya adalah:<br />
Spot news &#8211; Foto-foto insidential/ tanpa perencanaan sebelumnya, (contohnya: foto bencana, kerusuhan, teror bom, pembunuhan, tabrakan kereta api, perkelahian dll).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">General news : Foto yang telah terjadwal sebelumnya (contoh: Sidang Umum MPR, Piala dunia, PON, Presiden meremikan bendungan, pembukaan pameran perumahan dll. Dalam penyajiannya lebih luas mencakup Politik, ekonomi, pertahanan, humor dsb.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">People in the News<br />
Adalah sebuah sajian foto tentang manusia (orang) yang menjadi sorotan di sebuah berita. Kecenderungan yang disajikan lebih ke profil atau sosok seseorang . Bisa karena kelucuannya, ketokohannya, atau justru salah satu dari korban aksi teror, kurban bom dsb.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Daily life : Tentang segala aktifitas manusia yang mampu menggugah perasaan dalam kesehariannya, lebih ke human interest. Contohnya: seorang tua yang sedang menggendong beban yang berat, pedagang makanan dll.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Sosial &amp; Environment : Foto yang menggambarkan tentang sosial kehidupan masyarakat dengan lingkungan hidupnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Art and Culture : Foto yang dibuat menyangkut seni dan budaya secara luas, seperti pertunjukkan balet, pertunjukan yang terkait dengan masalah budaya dan musik dsb.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Science &amp; Technology : Foto yang menyangkut perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di muka bumi. Misalnya penemuan situs purbakala, klonning domba, pemotretan organ tubuh, proses operasi seorang pasien dsb.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Portraiture : Foto yang menggambarkan sosok wajah seseorang baik secara clouse up maupu secama medium shot. Foto ditampilkan karena kekhasan pada wajah yang dimilikinya.Sport : Foto-foto yang dibuat dari peristiwa olahraga dari seluruh cabang olehraga apa saja. Baik olahraga tradisional maupun olahraga yang telah banyak dikenal oleh awam.<br />
Dari berbagai kategori yang telah disebutkan di atas World Press Photo Foundation selalu membagi dengan jenis foto single (foto tunggal) foto stories (foto bercerita). Seorang fotojurnalis (fotografer) diberikan keleluasaan yang lebih luas untuk dapat memnyampaikan isu-isu yang sedang berkembang di seluruh dunia, melalui karya foto. <strong>dodo hawe</strong>, berbagai sumber.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=90&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/19/sejarah-dan-pemahaman-fotojurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/26dodo1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kerusuhan Jakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Visual dan Pesan dalam Fotojurnalistik</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/visual-pesan-dalam-fotojurnalistik/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/visual-pesan-dalam-fotojurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 16:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>
		<category><![CDATA[visual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[&#124; PEMAHAMAN &#124; Selain menguasai peralatan, seorang fotojurnalis juga dituntut mampu menghasilkan karya foto secara baik, dengan sudut pengambilan yang berbeda, baru dan menarik. Tentu saja, untuk mencapai pada tahapan itu membutuhkan proses pembelajaran dan pemahaman secara mendalam tentang konsep visual fotojurnalistik. Mengutip bahasa Oscar Mutuloh dari Brian Lanker, seperti yang dikutip Frank P Hoy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=66&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong></strong></span></p>
<div id="attachment_70" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><strong><img class="size-medium wp-image-70" title="fish" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/11.jpg?w=300&#038;h=196" alt="fish" width="300" height="196" /></strong></strong><p class="wp-caption-text">red snapper</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| PEMAHAMAN |</strong> Selain menguasai peralatan, seorang fotojurnalis juga dituntut mampu menghasilkan karya foto secara baik, dengan sudut pengambilan yang berbeda, baru dan menarik. Tentu saja, untuk mencapai pada tahapan itu membutuhkan proses pembelajaran dan pemahaman secara mendalam tentang konsep visual fotojurnalistik.<br />
Mengutip bahasa Oscar Mutuloh dari Brian Lanker, seperti yang dikutip Frank P Hoy dalam bukunya Photojurnalism, Visual Aprroach mengungkapkan ada tiga jenjang yang baik sebagai basis seorang untuk memilih berkecimpung dalam fotojurnalistik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><span style="color:#800000;">PERTAMA adalah Snapshots (pemotretan sekejab, cepat, seketika, spontan. Adalah suatu gaya pemotretan yang dilakukan secara cepat dan spontan karena menyaksikan momen atau aspek menarik dalam keseharian. Dilakukan dengan spontanitas dan diikuti refleks yang kuat. Jenjang pertama ini, masih menyangkut pendekatan yang sifatnya lebih personal.</span><span id="more-66"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">KEDUA adalah hobi (Advanced Amateur Photography). Dalam tahapan ini, fotografer mulai menekankan faktor-faktor eksperimentasi dalam pemotretannya. Fotografer tak lagi hanya melakukan snapshot saja, tetapi melakukan daya kreativitasnya untuk melakukan pendekatan lain yang lebih luas. Dalam tahapan ini seorang fotografer biasanya mulai tertarik pada kamar gelap. Kalau saat ini kamar gelap dianggap tidak relefan lagi, mungkin akan digantikan dengan penguasaan terhadap proses editing gambar di photoshops.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">KETIGA adalah Art Photography, suatu jenjang yang lebih serius, spesific dan mendetail. Berbagai obyek pemotretan dititik dengan interpretasi yang lebih luas. Ekspresi obyektif biasanya terlihat di dalam karya pada tahapan ini. Kejelian, improvisasi, kreasi dan kepekaan terhadap suatu obyek menjadi basis pada jenjang ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Dengan penguasaan gaya dan pendekatan ke tiga jenjang itulah sebenarnya photojournalism berada dalam tahap selanjutnya. Artinya dalam mengemban profesi tersebut, maka seorang fotojurnalis dianjurkan menguasi dengan fasih ketiga jenjang atau tahapan tersebut di atas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Selain itu, kreativitas dalam bervisualisasi sangatlah penting bagi seorang fotojurnalis. Dengan kemampuan imajinasi dan kreativitas yang tinggi, biasanya akan mempercepat pencapaian untuk menghasilkan sebuah gambar yang bagus dan menarik serta bermakna.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Foto tidak hanya sekedar bagus, jelas, indah, tapi juga harus menarik dan ada sesusatu kekuatan di dalamnya. Untuk itu, ”Fotojurnalistik perlu adanya sebuah pendekatan visual dengan suara hati,” kata Oscar Mothuloh dari Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Fotojurnalistik, juga tidak hanya menyajikan peristiwa melalui bahasa visual seadanya saja. Dalam penyampaian informasi, diperlukan dengan menyajikan bahasa visual yang segar, menarik dan mampu menyampaikan pesan. Untuk mendapatkan visual menarik dan sempurna, dibutuhkan kerja keras dan daya kreativitas yang memadai.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Sutradara layar lebar yang juga fotografer gaek dari Newsweek DW Griffith Wally MacNamee berpendapat, sebagai seorang fotografer besar, dia tak pernah jemu melihat dan melihat apa saja.<br />
Dalam rapat kerja senat di Washington seorang fotografer dari  New York Times Geoger Tames langsung mengawasi seluruh pojok ruangan, saat dia memasuki ruang rapat. Perlahan, sambil menyandang kamera 35 mm nya, dia mulai berjalan mengitari ruangan mengincar posisi pemotretan terbaik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Menurut MacNamee, naluri dan penciuman yang jeli diperlukan bagi seorang fotojurnalis, yang bersiap melakukan penugasan. Sebagai vigur visual, seorang fotojurnalis juga harus memahami subyek fotonya. Bahwa subyek foto perlu diobservasi untuk kemudian diekplorasi dalam suatu detail prima menjadi karya foto yang khas dan bertutur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Berbagai sudut pengambilan (angle) yang diabadikan secara beragam dengan sudut pandang yang berbeda. Kerahkan seluruh imajinasi, ketrampilan dan daya kreativitas untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah dibuat oleh orang lain. Diperlukan kepedulian visual yang dalam, pemikiran yang stabil, menyakinkan dan terlatih.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Tentu setelah melampaui pengalaman yang sarat, sehingga intuisi itu akan datang begitu nalurinya mengisaratkan sesuatu peristiwa yang layak menjadi sebuah foto berita (fotojurnalistik).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Menurut Penuturan MacNamee biasanya pendekatan suatu penugasan dengan menggabungkan pengalaman dan antusiasme seperti yang diungkapkannya. ”Setiap penugasan pasti berbeda, kendati sangat tipis dengan penugasan sebelumnya. Lalu karena tajamnya persaingan, kita harus mampu menangkap detail-detail yang belum pernah tersentuh dan sering menjadikannya berbeda antara satu penugasan dengan penugasan lainnya,”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">Menurutnya, seorang fotografer yang mampu terus menerus menangkap detail yang lebih tajam dapat menghasilkan foto-foto istimewa yang menenggelamkan karyafoto lainnya. (<strong>dodo hawe</strong>, berbagai sumber)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=66&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/visual-pesan-dalam-fotojurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fish</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Hidup dan Mati</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/antara-hidup-dan-mati/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/antara-hidup-dan-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 07:06:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[adam air]]></category>
		<category><![CDATA[antara hidup dan mati]]></category>
		<category><![CDATA[nomad]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[&#124; PENGALAMAN HIDUP &#124; Pagi itu Rabu 3 Januari 2007 pukul 06.00 WITA cuaca di Bandara Hasanuddin, Makassar terlihat cerah. Tidak ada tanda-tanda turun hujan ataupun badai seperti yang terjadi pada hari sebelumnya. Sejumlah kru pesawat Cassa dan Nomad Skuadron Udara 800 Wing Udara Koarmatim TNI AL telah siap untuk melakukan pencarian pesawat Adam Air [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=47&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">
<div id="attachment_48" class="wp-caption alignleft" style="width: 208px"><img class="size-medium wp-image-48" title="Badari Siklon" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/tornado.jpg?w=198&#038;h=300" alt="Badari Siklon" width="198" height="300" /><p class="wp-caption-text">Badai Siklon</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><span style="color:#800000;"><strong>| PENGALAMAN HIDUP |</strong></span> Pagi itu Rabu 3 Januari 2007 pukul 06.00 WITA cuaca di Bandara Hasanuddin, Makassar terlihat cerah. Tidak ada tanda-tanda turun  hujan ataupun badai seperti yang terjadi pada hari sebelumnya.  Sejumlah kru pesawat Cassa dan Nomad Skuadron Udara 800 Wing  Udara Koarmatim TNI AL telah siap untuk melakukan pencarian  pesawat Adam Air yang jatuh di perairan Pulau Sulawesi. Kebetulan pesawat Nomad yang diperintahkan untuk segera terbang melakukan tugas pencarian di perairan Selat Makasar. Pesawat  dibawah kendali Kapten Laut (P) Gering Sapto dan Letda I Made N  berangkat melakukan tugas SAR pukul 07.30 WIT dan akan melakukan  penerbangan selama 2 &#8211; 3 jam.<span id="more-47"></span>Ketika terbang di ketinggian antara 1.000-2.000 kaki tidak ada  tanda-tanda terjadinya hujan ataupun tiupan angin, karena cuaca  pagi itu cukup cerah. Pada jam-jam pertama melakukan tugas SAR  tidak ada hambatan apapun, semuanya berjalan lancar. Pencarian  dilakukan dengan menyusuri kawasan Selat Makassar dengan radius  pencarian sekitar 400 mil. Kali ini penyusuran diutamakan di  wilayah laut dan penyusuranpun dilakukan tanpa ada hambatan yang berarti.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Tidak terasa penerbangan pagi itu telah memakan waktu selama 2  jam, dengan melakukan penyusuran terbang rendah di kepulauan laut  dan pantai di kawasan Majene, Makassar. Ketika jarum jam  menunjukan pukul 09.30 WIT awan mulai menyelimuti udara di  perairan Selat Makassar yang disusul awan gelap dan turun hujan  di atas ketinggian.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Melihat gelagat cuaca yang kurang baik ini Kapten Gering mencoba  untuk mendekat ke Bandara Hassanudin. Celakanya ketika pesawat hendak mendekat ke bandara, pesawat yang ditumpang sekitar 9 wartawan media cetak dan elektronik yaitu Surya, Antara,  Surabaya Post, Reuters, RCTI, Global TV, Metro TV, SCTV dan JTV dan empat kru awak pesawat itu tidak bisa melihat runway Bandara Hasanuddin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Namun justru badai yang menghadang laju pesawat Nomad yang hendak mendarat ini.  Pesawatpun terhempas dan terombang-ambing badai yang disertai hujan, yang membuat detak jantung menjadi keras. Pesawat Nomad memang sengaja dirancang sebagai pesawat terbang  pengintai, yang hanya memiliki kemampuan terbang rendah.  Sehingga  ketika terjadi hujan lebat dan angin, pesawat ini tetap terbang  di antara guyuran air hujan, ketinggian tertentu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Saat terjadi badai dan hujan lebat di atas Bandara Hasanuddin,  Makassar, dengan cekatan Kapten Geringpun kembali memutar arah  pesawat.  Dari kejauhan terlihat pegunungan dan daratan, yang  ternyata pesawat sedang terbang dan melintas di atas langit  wilayah pegunungan di Kabupaten Maros.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Cuaca di wilayah itu juga masih kurang bersahabat. Tak lama kemudian pesawat kembali dihadang turun hujan lebat yang disertai  badai.  Pesawat kembali terguncang dan terombang-ambing lagi. Kali ini badai lebih besar dari serangan badai sebelumnya. Rupanya pesawat yang saya tumpangi ini benar-benar menghadapi masalah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Mesin pesawat terdengar meraung-raung di antara guyuran hujan dan badai.<br />
Batin saya berkecamuk, jantung berdebar-debar dan berdetak lebih kencang, serta pikiranku berlari kemana-mana. Ingat orang tua<br />
anak dan istri yang ada di rumah. Dalam hati saya berdoa, &#8220;Ya  Alloh, ampunilah dosa-dosa ku ini. Andaikan pesawat menghadapi  masalah, atau mendarat darurat. Berilah saya keselamatan,&#8221; Kata itu sempat terucap dalam hati saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Sejumlah wartawan yang tadinya terlihat masih bercanda sambil mengarahkan kamera ke pusaran badai kini menghentikan aktivitasnya dan terlihat menunduk. Di antara mereka terlihat terlentang dengan menutup matanya. Sepertinya mereka sengaja memejamkan mata dan pasrah kemungkinan jelek yang bakal terjadi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Wartawan dari Antara dan Surabaya Post misalnya sebelumnya sengaja menelan dua butir pil antimo (obat antimabuk) agar mereka bisa terlelap tidur. Ada juga wartawan yang terus menerus berzikir di sepanjang penerbangan itu. Bahkan seorang wartawan dari media eletronik tangannya terlihat bergetar, karena katakutan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Radar pesawat yang ada didekat kockpit menunjukkan warna merah yang kemudian langsung dimatikan oleh Kapten Gering. Kapten Gering sendiri terlihat tegang dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali menyalakan rokok untuk menghilangkan stress.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Suasana di ruang kabin berisi 11 penumpang terlihat tegang. Yang terdengar hanyalah raungan mesin pesawat dan gemuruh angin yang tak pernah berhenti sepanjang berjalanan hampir satu jam. Detak jantung berdebar-debar cepat dan tak tak pernah berhenti.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Adrenalin ku terasa dipompa, keras. Ketakutan dan kepasrahan kepada Alloh menjadi senjata untuk mengusir rasa takut. Di luar pesawat hanya terlihat gulungan awan putih dan hitam yang terus menyelimuti pesawat buatan Amerika ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Pesawat tetap melaju digegelapan awan dan hujan, untuk menghindari pusaran badai yang terus menggulung pesawat. Pesawat terpontang-paing ke kanan, kekiri dan terhempas ke bawah. Ketiga terhempas kebawah, rasanya seperti pesawat mau jatuh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Rasa takut akhirnya mulai sirna setelah Kapten Gering berhasil melewati serangan badai tadi. Meski demikian para wartawan masih terlihat tegang mereka masih was-was, karena dari kejauhan masih terlihat kepulan awan hitam yang mengepung penerbangan pesawat Nomad.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Melihat gumpalan asap yang mengepung, rupanya Kapten Gering terus berupaya menjauh dan menghindar, meski sesekali masih terasa hempasan angin yang menerpa pesawat Nomad. Jarum menunjukan pukul 11.15 WIT gumpalan asap hitam pun mulai menghilang. Pesawatpun mencoba kembali ke arah landasan Bandara Hasanuddin Makassar. Mejelang memasuki wilayah bandara badai kembali menghempas pesawat, hingga terasa sekali pesawat seperti terlempar jauh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Denyut jatungpun kembali berdetak keras. Namun dengan keberanian dan kepiawaiannya Kapten Gering akhirnya bisa menemukan runway Bandara Hasanuddin. Dengan perasaan yang masih belum menentu para wartawan terlihat masih tegang. Pesawat mencoba mendarat menuju landasan pacu bandara dengan tiupan angin yang cukup kencang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Ditengah hujan lebat akhirnya pesawat Nomad berhasil mendarat di<br />
dengan selamat di Bandara Hasanuddin Makassar tepat pukul 11.30 WIT.  Sejumlah petugas bandara terlihat bergerombol memandangi  pesawat kecil yang mendapat pada saat bandara sedang ditutup, akibat hujan lebat yang disertai angin. Sejumlah wartawan memberi ucacapan selamat kepada Kapten Gering dan krewnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Hidup dan Mati</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Pilot Nomad Kapten Laut (P) Gering Sapta mengaku baru pertama kali menghadapi badai seperti itu. &#8220;Ini pengalaman hidup atau mati selama menjadi penerbang mas.&#8221; ujar Gering beberapa saat setelah terbang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Menurutnya badai itu cukup besar dengan kecepatan 30 knot, pada hal badai yang menghantam pesawat Adam Air itu 70 knot. Posisi pesawat Nomad saat itu berada di pinggiran badai. &#8220;Ini baru di pinggirannya, kalau ketika kena di tengah pusaran habislah kita,&#8221; ujar pria berkaca mata minus ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Dikatakan saat itu pesawat dua kali memutar di atas Bandara Hasanuddin namun tidak menemukan runway, akibat tertutup awan gelap. Baru setelah uapaya yang ketiga berhasil menemukan lampu yang menyala di runway.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Keberanian mendarat meski bandara telah tertutup sejak pukul 10.00 WITA itu terpaksa dilakukan karena sisa bahan bakar yang ada di dalam pesawat tinggal satu jam. Setelah diserang badai sebenarnya Kapten Gering telah menghitung untuk melakukan pendaratan di bandara luar Makassar. Namun dia tidak mau berspekulasi karena di mana-mana cuaca buruk. &#8220;Dengan sisa terbang satu jam kita tidak mau ambil resiko. Ya, kalau bisa sampai dalam waktu satu jam. Kalau enggak kita bisa mendarat di pantai mas,&#8221; jelas Gering.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Sehingga dengan sedikit kenekatan mereka me-request Bandara Hasanuddin untuk membuka runway hingga melakukan pedaratan .Gering juga menjelaskan saat diserang badai dia juga telah pasrah. &#8220;Saya juga bisa merasakan apa yang terjadi pada teman-teman tadi kok,&#8221; katanya sambil melirik salah seorang wartawan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Mengenai radar yang dimatikan saat ada serangan badai, Gering menjelaskan bahwa kita semua tahu bahwa pesawat sedang dalam kondisi berat. Sehingga radar pesawat dimatikan saja agar tidak menambah ketegangan karena menyaksikan radar dipenuhi warna merah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Tentang kenekatan saat medarat &#8216;darurat&#8217; sejumlah kru pesawat lain dan petugas bandara sempat menggeleng-gelengkan kepala. &#8220;Gila mas,  berani banget pilotnya,&#8221; ujar seorang petugas bandara yang berdiri di kantin TNI AU. Gering sendiri harus mengambil resiko itu karena tidak mungkin mengambil keputusan untuk mendaratkan pesawatnya di tempat lain.  <span style="color:#800000;">(<strong>Dodo Hawe)</strong></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=47&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/antara-hidup-dan-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/tornado.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">Badari Siklon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kategori Fotojurnalistik</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/kategori-dalam-fotojurnalistik/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/kategori-dalam-fotojurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 03:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[dodo hawe]]></category>
		<category><![CDATA[kategori foto jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[word press photo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[&#124; DODO HAWE &#124; Menurut World Press Photo Foundation, penyelenggara lomba foto tahunan tentang fotojurnalistik tingkat dunia mengelompokkan fotojurnalistik menjadi beberapa kategori di antaranya adalah : Spot News &#8211; Foto insidential, yang terjadi tanpa perencanaan sebelumnya, Contoh: foto bencana, kerusuhuan, teror bom, pembunuhan, tabrakan kereta api, perkelaian dst. General news &#8211; Foto yang telah terjadwal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=30&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<div id="attachment_37" class="wp-caption alignleft" style="width: 138px"><img class="size-thumbnail wp-image-37" title="Art and Culture" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/art_summit.jpg?w=128&#038;h=90" alt="Art and Culture" width="128" height="90" /><p class="wp-caption-text">Art and Culture</p></div>
<div id="attachment_41" class="wp-caption alignleft" style="width: 138px"><img class="size-thumbnail wp-image-41" title="Science &amp; Technology" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/sukoi_05.jpg?w=128&#038;h=85" alt="Science &amp; Technology" width="128" height="85" /><p class="wp-caption-text">Science &amp; Technology</p></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>| DODO HAWE |</strong></span> Menurut World Press Photo Foundation, penyelenggara lomba foto tahunan tentang fotojurnalistik tingkat dunia mengelompokkan fotojurnalistik menjadi beberapa kategori di antaranya adalah :<strong> Spot News</strong> &#8211; Foto insidential, yang terjadi tanpa perencanaan sebelumnya, Contoh: foto bencana, kerusuhuan, teror bom, pembunuhan, tabrakan kereta api, perkelaian dst.<strong> General news</strong> &#8211; Foto yang telah terjadwal sebelumnya (contoh: Sidang Umum MPR, Piala dunia, PON, Presiden meremikan bendungan, pembukaan pameran perumahan dll. Dalam penyajiannya lebih luas mencakup Politik, ekonomi, pertahanan, humor dsb.<span id="more-30"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>People in the News</strong> &#8211; Adalah sebuah sajian foto tentang manusia (orang) yang menjadi sorotan di sebuah berita. Kecenderungan yang disajikan lebih ke profil atau sosok seseorang . Bisa karena kelucuannya, ketokohannya, atau justru salah satu dari korban aksi teror, kurban bom dsb.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Daily life</strong> &#8211; Tentang segala aktifitas manusia yang mampu menggugah perasaan dalam kesehariannya, lebih ke human interest. Contohnya: seorang tua yang sedang menggendong beban yang berat, pedagang makanan dll.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sosial &amp; Environment  &#8211; </strong>Foto yang menggambarkan tentang sosial kehidupan masyarakat dengan lingkungan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Art and Culture</strong> &#8211; Foto yang dibuat menyangkut seni dan budaya secara luas, seperti pertunjukkan balet, pertunjukan yang terkait dengan masalah budaya dan musik dsb.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Science &amp; Technology</strong> &#8211; Foto yang menyangkut perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di muka bumi. Misalnya penemuan situs purbakala, klonning domba, pemotretan organ tubuh, proses operasi seorang pasien dsb.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Portraiture</strong> &#8211; Foto yang menggambarkan sosok wajah seseorang baik secara clouse up maupu secama medium shot. Foto ditampilkan karena kekhasan pada wajah yang dimilikinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sport</strong> &#8211; Foto-foto yang dibuat dari peristiwa olahraga dari seluruh cabang olehraga apa saja. Baik olahraga tradisional maupun olahraga yang telah banyak dikenal oleh awam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari berbagai kategori yang telah disebutkan di atas World Press Photo Foundation selalu membagi dengan jenis foto single (foto tunggal) foto stories (foto bercerita). Seorang fotojurnalis (fotografer) diberikan keleluasaan yang lebih luas untuk dapat memnyampaikan isu-isu yang sedang berkembang di seluruh dunia, melalui karya foto.  (dodo hawe, berbagai sumber)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=30&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/17/kategori-dalam-fotojurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/art_summit.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">Art and Culture</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/sukoi_05.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">Science &#38; Technology</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Foto Jurnalis</title>
		<link>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/16/menjadi-fotojurnalis/</link>
		<comments>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/16/menjadi-fotojurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 16:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodo hawe</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[foto jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[memotret]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi wartawan]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[menyimpan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodohawe.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[&#124; PEWARTA FOTO &#124; Fotojurnalistik belakangan menjadi trend di kalangan sejumlah fotografer. Meski sebagian fotografer menganggap bahwa kerja foto jurnalis adalah kerja gila. Namun sebenarnya menjadi foto jurnalis (wartawan foto) sangatlah mengasyikan. Pekerjaan ini sangat cocok bagi seseorang yang memiliki jiwa petualang. Kerja seorang wartawan foto secara umum tidak monoton, setiap hari selalu memiliki pengalaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=17&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">| PEWARTA FOTO |</span></strong> Fotojurnalistik belakangan menjadi trend di kalangan sejumlah fotografer. Meski sebagian fotografer menganggap bahwa kerja foto jurnalis adalah kerja gila. Namun sebenarnya menjadi foto jurnalis (wartawan foto) sangatlah mengasyikan.<br />
Pekerjaan ini sangat cocok bagi seseorang yang memiliki jiwa petualang. Kerja seorang wartawan foto secara umum tidak monoton, setiap hari selalu memiliki pengalaman baru. Selalu bertemu dengan orang yang berbeda. Bahkan peristiwa yang dihadapipun selalu tidak sama. Dan setiap hari selalu menghadapi masalah yang berbeda pula.<br />
Bagi seorang pemula fotografi, rasanya disarankan untuk mencoba, menimba pengalaman sebagai foto jurnalis.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-25" title="1" src="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/1.jpg?w=300&#038;h=164" alt="1" width="300" height="164" /></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-17"></span><br />
Kerja wartawan foto maupun jurnalis umum tidak memiliki jam kerja yang jelas, karena tidak ditentukan oleh waktu yang mengikat. Pekerjaan bisa dilakukan, pagi, siang malam dst. Namun dalam melakukan tugas kesehariannya selalu dihadapkan pada masalah waktu yang mengikat, karena dikejar-kejar deadline.<br />
Tugas seorang foto jurnalis, tidak hanya memotret belaka. Ada tiga pekerjaan pokok yang harus dilakukan oleh seorang foto jurnalis yaitu; <strong>Memotret, Menulis, Memilih </strong>dan<strong> Menyimpan.</strong><br />
<strong>Memotret</strong> &#8211; Kerja utama seorang foto jurnalis adalah melakukan peliputan dengan kamera. Dengan kemampuan fotografinya diharapkan menghasilkan foto-foto yang menarik dan mampu menyampaikan informasi yang dibutuhkan pembaca. Memotret<strong> </strong>dari berbagai angle dan moment yang ada, sehingga banyak variasi foto yang dihasilkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menulis</strong> &#8211;  Foto jurnalis wajib menuliskan keterangan dan metadata ke dalam setiap foto-foto hasil kerjanya. Selain itu seorang foto jurnalis diharapkan juga mampu mendapatkan data-data dan menulis, menggantikan posisi seorang wartawan tulis, yang berhalangan hadir medan peliputan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memilih</strong> &#8211;  Foto jurnalis juga berhak memilih foto-foto dengan mengusulkan berbagai macam angle untuk diajukan ke meja editor foto.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menyimpan</strong> &#8211;  Selain memotret seorang foto jurnalis juga memiliki tugas rutin untuk meriset foto-foto hasil kerjanya. Penyimpanan foto hasil kerja ini, biasanya dibantu oleh seorang periset foto yang bertugas.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyaknya tugas dan kerja yang terus berada dilapangan dengan berbagai macam medan yang berbeda menjadikan seorang foto jurnalis memiliki banyak pengalaman dan ketajaman dalam melihat berbagai macam persoalan. Sehingga tidak heran jika naluri seorang foto jurnalis sangat tajam, ketika membaca berbagai macam persoalan yang dihadapi.<br />
Lapangan juga membuat seorang foto jurnalis memiliki insting yang kuat. Kekuatan instingnya ini, tidak jarang pula seorang foto juralis mampu mengantisipasi sebuah peristiwa yang tak terduga datangnya.<br />
Kerja lapangan tidak hanya memberikan banyak pengalaman, namun memberikan banyak kreativitas dan kecepatan dalam menangkap mement yang mereka lihat. Dengan kreativitasnya itu, tak heran jika foto-foto yang dihasilkan memiliki kekuatan dan kedalaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut beberapa tips-tips seorang pemula yang memulai karirnya di dunia fotojurnalistik:<br />
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang pemula untuk menjadi foto jurnalis (wartawan foto) di antaranya :<br />
Kesiapan mental, menjadi faktor penting bagi seorang foto jurnalis. Mental perlu dipersiapkan secara matang agar tidak mengganggu dalam melakukan tugas-tugas peliputan nantinya. Selain itu seorang foto jurnalis juga harus, siap berada di segala medan, siap bekerja dengan ritme yang tinggi, tanpa jam kerja yang jelas, siap bekerja dibawah tekanan, karena dikejar-kejar deadline.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu perlu memperhatikan hal-hal yang menyangkut emosional dalam memotret :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Jangan grogi : Hilangkan perasaan malu, takut mendekati subyek, tidak yakin dengan apa yang diperbuat.<br />
* Kebanyakan para pemula merasa ragu karena takut, segan saat medekat ke subyek foto, sehingga akan mempengaruhi hasil kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Tariklah napas panjang jika perasaan nerves masih menghantui perasaan. Ketika telah berada di dekat subyek foto sadarlah bahwa Anda melakukan tugas sebagai pemotret bukan penonton. Posisikan diri Anda sebagai seorang foto jurnalis yang akan mengabadikan setiap gerakan subyek foto.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Jangan memotret asal jadi dan seadanya. Menuggulah momentum yang tepat saat menekan shutter (tombol) kamera. Bidiklah obyek agar tepat sasaran dan benar-benar telah masuk dalam bingkai pada rana kamera secara tepat. Lihatlah sisi kanan kiri atas bawah bahwa posisi obyek telah berada di posisi yang diinginkan.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Buatlah komposisi yang menarik, dengan menunggu moment yang tepat saat menekan shutter speed (timbol kamera). Untuk mendapatkan komposisi pilihlah tempat yang sesuai dengan gambar yang diinginkan. Dengan melakukan pemotretat dari angle atas angle bawah dan sisi depan sisi samping kiri maupun kanan. Letakan subyek yang difoto pada sisi bingkai pada foto yang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Buatlah foto sebanyak-banyaknya yang sesuai, sehingga mendapatkan angle yang diinginkan. Jagan hanya mengambil foto satu dua shot kemudian ditinggal pergi. Membuat foto dengan sudut pengambilan medium shot, longshot dan detail (dekat) menjadikan hasil kerja pemotretan Anda lebih bervariasi. Sehingga memberikan peluang editor foto, lebih leluasa dalam memilih foto.<br />
Mendekatlah pada subyek foto untuk mendapatkan foto yang detail dan jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Perhatikan kejadian-kejadian yang unik, menarik, aneh yang kemungkinan terjadi secara tiba-tiba disekitar Anda. Peristiwa seperti ini biasanya sangat menarik untuk dipotret misalnya, orang jatuh, orang tertidur, anak kecil nyelonong ke depan dsb. Sabarlah menunggu ekspresi atau gerakan obyek yang difoto sehingga menghasilkan gambar dengan ekspresi atau gerakan yang menarik saat difoto.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Taruhlah kamerka ditempat yang mudah diambil, dalam posisi siap jika dibutuhkan secara cepat. Kalau perlu kamera jangan sampai lepas dari tangan Anda. Sehingga bila ada kejadian yang datangnya tiba-tiba, tangan kita secara reflek akan dengan mudah mengabadikan kejadian itu.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Evaluasi langsung apa kekurangan dari foto-foto yang baru saja kita hasilkan.</p>
<p style="text-align:justify;">9. Catatlah (membuat caption atau teks foto) setiap kejadian yang terjadi ke dalam isian metadata yang telah tersedia. (<strong>dodo hawe</strong>, berbagai sumber)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dodohawe.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dodohawe.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dodohawe.wordpress.com&amp;blog=3106527&amp;post=17&amp;subd=dodohawe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodohawe.wordpress.com/2009/03/16/menjadi-fotojurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/184365bf5911a64539ecd585d9978d77?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dodohawe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dodohawe.files.wordpress.com/2009/03/1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
