dodo hawe

Kejujuran dalam Foto Jurnalistik

In fotojurnalistik on March 24, 2009 at 11:56 am

anak waduk

Anak waduk - Keceriaan anak-anak Waduk Dawuhan Kabupaten Madiun. Foto diambil Juni 2004. foto: dodo hawe

| KEJUJURAN | Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang bertujuan dalam permotretannya karena keinginan bercerita kepada orang lain, memberikan informasi tentang suatu peristiwa dalam bentuk visual gambar (berupa hasil karya foto). Jadi foto jenis ini kepentingan utamanya adalah keinginan dalam menyampaikan pesan (massage) visual pada orang lain dengan maksut agar orang yang melihat melakukan sesuatu tindakan psikis maupun psikologis atas karya yang disajikan.
Tak hanya berita. Tidak sedikit, sajinan fotojurnalistik yang dimuat di sebuah media cetak misalnya, langsung mendapat respon dari sebuah isntitusi, lembaga pemerintahan. Misalnya foto jalan rusak, kubangan berbahaya, langsung mendapat respon dari Pemerintah Kota setelah foto-foto itu dimuat di media cetak. Memang selain sebagai alat komunikasi, fotojurnalistik juga dapat dijadikan sebagai alat kritik sosial.
Namun demikian dalam perkembangannya, fotojurnalistik saat tidak hanya dibuat oleh wartawan media cetak saja. Munculnya media online, blog, citizen jurnalist, juga mampu memberikan wacana baru, paradikma baru, terhadap masyarakat luas dalam berkomunikasi.

Begitu halnya dengan photojurnalistik, juga mengalami hal yang sama. Kini media online mampu menyajikan informasi secara cepat dan akurat. Tidak lama lagi kecepatan penyajian fototojurnalistik online bisa menggantikan posisi fotojurnalistik media cetak. Perkembangan fotojurnalistik saat ini juga mengalami perubahan yang signifikan. Munculnya citizen photojurnalist juga memberikan warna baru terhadap perkembangan fotojurnalistik.

Berikut ini, akan kembali membahas sekilas tentang fotojurnalistik. Banyak orang awam beranggapan bahwa yang disebut fotojurnalistik itu hanyalah foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto saja. Padahal fotojurnalistik sebenarnya mencakup hal yang sangat luas. Foto-foto advertensi, kalender, postcard adalah juga bisa dikatakan jenis fotojurnalistik.
Dalam buku serial Photojournalistic yang diterbitkan oleh Time Life diungkapkan bahwa: Sementara foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto seperti yang kita lihat di media massa adalah pers foto (foto berita) yang penekanannya pada perekaman fakta otentik yang terjadi ditengah masyarakat.
Misalnya foto yang menggambarkan kebakaran, kecelakaan, penggusuran, dsb. Foto berita, foto advertensi dan sebagainya, itu semua sebenarnya ingin menceritakan sesuatu yang pada gilirannya akan membuat orang tersebut bertindak (feedback) . Foto-foto jurnalistik ini disiplinnya lebih banyak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pengaruh imaji (gambar) bagi pemerhatinya.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa fotojurnalistik yang baik adalah foto yang memiliki pesan yang jelas dari sebuah peristiwa, tetapi dibuat dengan kemampuan teknologi secara otentik berupa kamera dan disiarkan ke tengah masyarakat.
Untuk mencapai ini tentu kita harus menguasai dua basis yang berbeda. Yaitu pendekatan teknis dan pendekatan konseptual. Pada pendekatan teknis, seorang fotojurnalis dituntut mengetahui dan menguasai betul segala aspek teknis dalam pemotretan yang mencakup, kamera, lensa dan aksesoris dan lainnya, sebagai penunjang untuk menghasilkan karya. Sedang pendekatan koseptual, ada terkait sejauh mana hasil karya itu memeliki pesan yang akan disampaikan ke tengah masyarakat.
Definisi dari fotojurnalistik dapat diketahui dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada foto yang dihasilkan itu. Biasanya foto jurnalistik memiliki ciri-ciri yang melekat seperti; Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri, melengkapi suatu berita/artikel dan dimuat dalam suatu media baik media cetak maupun media online.
Sebenarnya sebuah fotojurnalistik dapat berdiri sendiri, tapi sajian berita jurnalistik tanpa foto rasanya kurang lengkap. Sehingga timbul pertanyaan, mengapa foto begitu penting? Karena foto merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa dan memiliki akurasi yang hakiki. Selain itu foto juga memberikan dimensi lain, terhadap sebuah tampilan dalam media. Foto juga memberikan keyakinan dan sebagai bukti kebenaran dari sebuah berita yang disampaikan oleh sebuah media kepada pembacanya.
Kebenaran sebuah peristiwa tak bisa terbantahkan dengan kehadiran sebuah karya fotojurnalistik. Di dalam fotojurnalistik sendiri tidak ada seuatu yang dibuat-buat, tidak ada sesuatu yang direkayasa. Perstiwa begitu saja terjadi, yang kemudian diabadikan dalam sebuah bentuk visual berupa gambar yang kemudian disiarkan melalui media cetak maupun online, yang dilengkapi data sebagai mendukungnya.
Maka diharamkan apabila seorang jurnalis foto melakulan rekayasa dengan menambah, mengurangi atau mengubah terhadap karya fotonya. Karya foto memang benar-benar terjadi apa adanya. Sebuah fakta yang terjadi yang direkam dalam sebuah media visual berupa gambar.
Itu sebabnya seorang fotojurnalis dituntut memiliki moralitas dan kejujuran yang sangat tinggi. Seorang jurnalis yang pembohong, akan menipu pembacanya dengan melakukan manipulasi fakta dan kejadian. Dengan kejujurannya, moralitas dan idialisme yang positif, seorang fotojurnalis mampu menyajikan sebuah fakta yang memang benar-benar ada.
Menurut mantan Redaktur Foto Kompas almarhum Kartono Ryadi, semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi. Perbedaan foto jurnalis adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalistik berarti memilih foto mana yang cocok.
Lantas dia mencontohkan dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memotret seluruh peristiwa. Mulai dari penerimaan tamu hingga usai acara. Tapi seorang wartawan foto hanya mengambil sisi-sisi yang dianggap menarik saja. Karena memang peristiwa itu nantinya akan menjadi pilihan wartan foto untuk dimuat di dalam medianya saja.
Jadi yang membedakan foto jurnalistik dengan foto dokumentasi itu sebatas pada apakah foto itu dipublikasikan di media massa atau tidak. Hal lain yang menjadi nilai suatu foto jurnalistik juga ditentukan oleh beberapa unsur di antaranya;
Aktualitas, berhubungan dengan berita. Kejadian luar biasa, promosi, kepentingan, human interest dan universal yang selalu terkait dengan kepentingan manusia.

Foto yang sukses
Batasan sukses atau tidaknya sebuah foto jurnalistik tergantung pada persiapan yang matang dan kerja keras bukan pada keberuntungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada foto yang merupakan hasil dari “being in the right place at the right time” (berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat). Ini merupakan hadiah dari Tuhan. Sehingga, akibat keberuntungannya itu bisa mengabadikan peristiwa yang langka, bersejarah, kejadian besar dsb.
Tetapi seorang foto jurnalis profesional adalah seorang jurnalis yang melakukan riset terhadap subjek fotonya dan mampu menetukan peristiwa potensial dan foto seperti apa yang akan mendukungnya. Itu semua sangat penting mengingat suatu moment yang baik hanya berlangsung sekian detik dan mustahil untuk diulang kembali.
Selain itu seorang foto jurnalis juga harus memiliki etika, empati dan hati nurani. Ketiga hal itu merupakan hal yang amat penting dan menjadi sebuah nilai lebih yang ada dalam diri seorang foto jurnalis. Seorang foto jurnalis juga harus bisa menggambarkan kejadian sesungguhnya lewat karya fotonya.
Intinya foto yang dihasilkan harus bisa bercerita sehingga tanpa harus menjelaskan orang sudah mengerti isi (pesan) dari foto tersebut dan hal penting tidak melakukan manipulasi dalam foto tersebut. Itu sebabnya seorang foto jurnalis harus memiliki moral dan kejujuran terhadap karya-karyanya. Sebuah fotojurnalistik harus menampilkan kebenaran, apa adanya dan tidak ada rekayasa dalam karya yang dihasilkannya.
Sejauh mana manipulasi itu dilakukan? Sebenarnya tidak ada ketentuan yang secara rinci menyebutkan boleh tidaknya manipulasi itu dilakukan, namun sejak awal perjalanan fotojurnalistik adalah sebuah foto yang direkam atas peristiwa yang terjadi. Seorang wartawan foto dari Time, John Stanmayer mengatakan bahwa foto jurnalistik adalah fotografi kebenaran, yang merupakan fotografi berkekuatan lebih besar.
Sehingga akan menodai keberadaan fotojurnalistik yang disajikan secara apaadanya, jika seorang fotojurnalis melakukan manipulasi terhadap hasil karyanya. Meski demikian tidak ada sangsi jelas, terhadap seseorang fotojurnalis yang melakukan manipulasi hasil karyanya itu. Namun hanya sangsi moral, penyesalan, yang akan membebani seorang fotojurnalis yang memanipulasi dan melakukan kebohongan terhadap karya fotonya sendiri. Itulah sebabnya seorang jurnalis harus memiliki moralitas dan idialisme yang baik.
Meski demikian dalam kenyataannya media cetak tetap melakukan rekayasa foto dengan melakukan penggabungan di photoshops. Dalam kasus ini, media cetak wajib mencantumkan keterangan di bawah foto yang dibuah ilustrator dengan memberi penjelasan fotorekayasa (montage). Pemberian keterangan ini, wajib diberikan untuk memberi penjelasan kepada pembaca bahwa foto yang ditampilkan adalah bukan fotojurnalistik. dodo hawe

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: